Rabu, 04 Agustus 2010

Friday, July 30, 2010

Sudah 4 hari aku tidak menulis blog. Walaupun begitu, aku menulis diary di komputerku. Hanya saja, selama 4 hari terakhir ini selalu saja ada halangan untuk mendapatkan akses internet.

Jadi, inilah 4 hari terakhir.
Hari Jumat, setelah menulis blog ini untuk pertama kalinya, aku pulang dari Burger Grill Bintaro sekitar jam setengah delapan malam. Hal yang terakhir kali kulakukan adalah browsing informasi mengenai penyakit yang sering menghinggapiku akhir-akhir ini.

Aku pulang naik angkot, tiba di depan komplek Senayan Bintaro sekitar jam 8 malam, dan, ya ampun! Komplekku gelap sekali! Sepertinya akhir-akhir ini lampu jalannya memang tidak pernah dinyalakan. Sebenarnya aku orang yang sangat takut gelap. Tapi entah mengapa aku tidak pernah merasa takut berjalan sendirian di malam hari, di saat semua lampu jalan mati.

Aku tiba di rumah, memberi makan Bulbul, dan tak lama kemudian gantian Bapak dan Mama yang pergi ke rumah baru Tante Tina dan Om Basuki. Sebenarnya, besok Bapak dan Mama akan ke sana lagi untuk menghadiri selamatan rumah baru itu, sebelum Bapak terbang.

Sasa, sahabat Deany dari SMP, sedang main ke rumah, menjenguk Deany yang baru selesai operasi, sekalian membawa baju-baju bekasnya yang akan dijual untuk menggalang dana untuk OSPEK FKG Mustopo. Ketika aku masuk ke kamar Deany, aku mendapati hampir sepuluh kantung plastic besar berwarna hitam. Dalam kantung-kantung plastic itu terdapat baju, celana, rok bawahan dan terusan, sepatu-sepatu dan sandal, dan tas-tas lama Sasa. Sebenarnya usia barang-barang itu belum terlalu lama. Sasa memang shopaholic. Ada banyak sekali barang di lemarinya yang tidak pernah digunakan, dan akhirnya hari ini disumbangkannya untuk bazaar anak-anak FKG Mustopo.

Setelah Sasa pulang, aku melihat-lihat isi plastic itu dan menemukan barang-barang bagus di dalamnya. Aku sempat membeli sepasang sepatu dan sebuah rok terusan sebelum barang-barang dagangan itu dijemput teman sekampus Deany.

Itulah hari Jumat.
Dan ini hari berikutnya:

Hari Sabtu, 31 JuliHey! Hari terakhir di bulan Juli! Tidak terasa, waktu cepat sekali berlalu. Sebenarnya, entah mengapa akhir-akhir ini waktu terasa cepat sekali berlalu.

Hari ini istimewa karena hari ini untuk pertama kalinya aku mengikuti kelas Bahasa Italia pertamaku. Tempatnya di Radio Dalam, bernama Language Corner. Di tempat itu memang ditawarkan berbagai macam program bahasa asing. Bahasa-bahasa yang ditawarkan lumayan lengkap, mulai dari yang umum seperti Mandarin, Jerman, Jepang, dan Prancis, hingga yang masih jarang peminatnya, seperti Spanyol, Korea, dan Italia.

Sebenarnya, sudah lama sekali aku ingin mempelajari bahasa Italia. Bahasa adalah obsesiku. Apakah kalian tahu bahwa aku bercita-cita ingin menguasai minimal 5 bahasa? Lima bahasa itu adalah, Indonesia dan Inggris tentunya, lalu Italia, Spanyol, dan Portugis. Ya! Minimal 5 itu dulu. Nanti kalau kelima bahasa itu sudah fasih, baru aku akan belajar bahasa Jerman dan Mandarin untuk keperluan bisnis, Prancis untuk keperluan ilmu masak-memasak alias kuliner, dan Yunani untuk mempelajari sastra dan sejarahnya yang luar biasa. Awww…! Aku cinta bahasa!

Yah, jadi, begitulah. Sejak lama, aku terus mencari informasi tentang tempat-tempat kursus bahasa Italia. Tapi, karena peminatnya tidak sebanyak Prancis dan Jerman, maka tempat belajar bahasa Italia lebih terbatas. Sementara kursus bahasa mandarin, Prancis, dan Jerman mudah ditemui di ruko-ruko dan kampus-kampus, bahkan beberapa sekolah, akses untuk mempelajari bahasa italia masih sulit sekali.

Sebenarnya, sampai saat ini, tempat belajar bahasa italia, di Indonesia, yang kutahu hanya dua: Istituto Italiano di Cultura, yang di HOS Cokroaminoto, dan, yang di Radio Dalam itu tadi. Aku sudah lama mendaftarkan diri di kedua tempat tersebut. Tapi, kelas bahasa italianya jarang sekali dibuka. Yang di IIC baru bisa dibuka kalau sudah mendapatkan 20 peserta, yang di Language Corner minimal 7 peserta.

Selama menunggu, selama ini aku juga sudah belajar secara otodidak dengan CD-room, audio CD, buku-buku dan kamus bahasa italia.Nah, sekitar tiga bulan yang lalu, IIC akhirnya membuka kelas, walaupun belum mendapatkan 20 peserta. Tapi, karena aku tidak mampu membayar biaya kursusnya dengan uangku sendiri, akhirnya aku tidak jadi ikut kursus di IIC. Tapi aku jadi menyesal karena melewatkan kesempatan yang sangat langka tersebut. Karena itulah, begitu Language Corner menghubungiku, mengabarkan bahwa kelas akan mereka buka, aku segera memutuskan, bahwa apapun yang terjadi, aku harus mengikuti kelas itu!

Jadi, pagi ini, datanglah aku ke Language Corner di Radio Dalam. Mama mengantarku ke sana. Kami berangkat dari rumah jam 8 pagi, setelah aku selesai sarapan dan memberi makan Bulbul. Sebenarnya, aku hanya meletakkan tempat makan Bulbul di car port, tidak menyuapinya seperti biasa. Ternyata Bulbul baru mau makan jam 10 setelah dipaksa Mama.

Aku tiba di Language Corner jam 9 kurang, dan langsung mendaftarkan diri. Setelah membayar uang pendaftaran dan menerima dua buah buku tebal, aku dipersilakan naik ke ruang kelas di lantai dua.

Ternyata ruang kelasnya kecil-kecil. Kira-kira ukurannya hanya 4 x 4 m. Di dalamnya terdapat sebuah papan tulis putih, sebuah meja dengan kamus dan radio di atasnya, dan lima atau enam kursi lipat bermeja a la kelas kuliah. Wah! Bakal menyenangkan!

Tak lama setelah aku meletakkan tas di kursi, datang seorang cewek mungil yang cantik. Namanya Indi, usianya setahun lebih muda dari Adrian, dan baru setahun kuliah di Swiss German University (SGU). Anak itu manis sekali dan pendiam. Kami mengobrol sampai Rama muncul.

Begitu Rama datang, suasana kelas langsung ramai. Aku langsung asik bercanda dengan Rama. Maklum, kami sudah lama sekali tidak bertemu. Rama ini teman satu kampusku. Kami satu kampus, satu jurusan, seringkali satu kelas, berteman dengan orang-orang yang sama, bergaul di lingkungan yang sama, dan satu nasib: sama-sama lulus belakangan.

Aku mendengar tentang Language Corner ini pertama kali juga dari Rama. Sejak lama kami sudah berniat untuk sama-sama les bahasa italia di Language Corner. Jadi, ketika akhirnya niat itu bisa terwujud, kami senang sekali. Kami sama-sama bersemangat untuk mengikuti kelas ini.

Seharusnya kelas baru bisa dibuka kalau pesertanya sudah mencapai 7 orang. Tapi, karena tidak ingin kami menunggu terlalu lama, akhirnya Language Corner tetap membuka kelas, walaupun pesertanya baru 5 orang.

Setelah Rama datang, kami bertiga (aku, Indi, dan Rama) masih menunggu dua orang lagi. Eh, ternyata yang muncul malah gurunya. Namanya Rani. Aku tidak tahu apakah aku harus memanggilnya Bu Rani. Ia tampak masih muda sekali. Usianya paling hanya dua atau tiga tahun di atasku.

Mulai sekarang, aku akan menyebutnya di sini dengan sebutan Signorina Rani, karena ia guru bahasa italia.Signorina Rani bertubuh kecil, berkacamata, dan mengenakan jilbab. Ia lulusan sastra dari Universitas Negeri Jakarta. Semasa kuliah ia pernah mengambil kelas bahasa italia yang dibuka di kampusnya, hasil kerjasama UNJ dengan IIC. Setelahnya ia pernah mendapatkan beasiswa untuk tinggal di italia selama 3 bulan. Woww! Signorina Rani orang yang sangat menyenangkan.

Tidak ada lagi peserta yang datang. Ternyata dua peserta lainnya baru bisa datang minggu depan. Jadi, hari ini hanya ada aku, Rama, dan Indi.

Pelajaran hari ini baru sebatas memperkenalkan diri, menanyakan, menyebutkan, dan mengeja nama, menanyakan dan menyebutkan kebangsaan dan daerah asal, dan beberapa kosakata mengenai Negara dan penduduknya. Kami juga diajari menyebutkan abjad dalam bahasa italia.Kelas hari ini sangat santai dan penuh tawa. Walaupun muridnya hanya tiga orang, aku yakin, dengan kehadiranku dan Rama, Signorina Rani merasa seperti mengajar kelas berisi 50 orang.

Minggu depan sebenarnya aku berniat ke Bali untuk menghadiri acara wisuda Adrian. Tapi, sepertinya terlalu berat untuk meninggalkan satu sesi kursus bahasa italia yang menyenangkan ini. Lagipula, Adrian akan kembali ke Jakarta untuk waktu yang lama.

Setelah kelas berakhir, aku langsung naik taksi menuju ke kantor untuk pertemuan dengan tim Arsitek Keuangan. Dana dan Putra sudah menungguku di sana. Kami berdiskusi, saling berbagi informasi, dan pada jam 1 siang meninggalkan kantor untuk makan siang di Hoka-Hoka Bento di… aku tidak tahu nama daerahnya. Yang jelas, aku ingat sekali pernah makan di sana juga bersama Gea, sewaktu kami menonton pameran yang diadakan DKV UPH pada tahun 2006.

Setelah makan, Dana mengantarku dan Putra ke halte busway Dukuh Atas. Aku dan Putra naik transjakarta ke Blok M, dan kami berpisah di Blok M. Putra bercerita, beberapa waktu lalu, saat ia menaiki transjakarta, ia melihat keramaian di bawah jembatan halte Setiabudi. Ternyata saat itu ada orang terlindas transjakarta! Seorang saksi mata bercerita pada Putra bahwa ia bisa mendengar suara derakan saat tulang-tulang korban hancur tergilas bis. Mengerikan.

Dari Blok M, aku naik 74, seperti biasa, menuju Rempoa. Saat bis 74 yang kunaiki tiba di jalan Tanah Kusir-Veteran, macet total terjadi di sepanjang jalan itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi belakangan aku mendengar bahwa mala mini terjadi kerusuhan Ormas FBR (Forum Betawi Rempung) di Organon, Pondok Indah, sampai ke Depok. Mengerikan! Aku benci Ormas itu, juga FPI. FBR dan FPI adalah biang kerok yang harus dimusnahkan.

Dari Rempoa naik D08 ke Bintaro Plaza, dan langsung naik angkot jurusan Jagung untuk menuju komplek Senayan Bintaro, rumahku.

Seharusnya sore ini aku mencoba datang ke Senayan (yang di Jakarta, bukan Senayan Bintaro) untuk latihan bersama Buana Putri. Sudah lama aku meminta Stella, teman setimku di tim futsal Estudiantes buatanku dulu, untuk mengajakku ikut latihan di klub itu. Stella sudah bergabung dengan klub itu sekitar satu setengah tahun. Sudah lama aku mengatakan padanya bahwa aku juga ingin bergabung di klub itu. Tapi aku tidak percaya diri untuk datang ke sana begitu saja, tanpa janjian dengan Stella. Dan sudah sebulan ini Stella beberapa kali membatalkan latihannya, atau aku yang tidak bisa ikut karena berbagai hal. Sore ini, aku kembali membatalkan niatku karena Stella tidak bisa ditelepon dan aku tidak berani ke sana sendirian. Lagipula, aku tidak tahu latihannya jam 3 atau jam 4 sore.

Aku tiba di rumah sekitar jam 4 sore. Aku melihat Bali baru saja diajak jalan-jalan oleh Berto dan anak pacar Berto saat aku berjalan kaki ke rumah. Anak itu lucu sekali. Aku tidak pernah tahu namanya, dan nama ibunya. Oh ya. Aku belum cerita mengenai tetanggaku ini. Persis di depan rumahku, tinggal dua orang pria, Berto dan Mario. Tenang saja. Mereka kakak-beradik. Selain rumah, bangunan tempat mereka tinggal itu juga merangkap kantor. Kedua orangtua mereka, aku memanggil Om Tommy dan Tante Evelyn, berjualan kosmetik di toko itu. Mereka adalah keluarga yang baik dan ramah, juga yang pertama kukenal di lingkungan ini. Ya, aku juga belum menceritakan, keluargaku baru pindah ke rumah yang kini kami tempati sekitar setahun lalu. Tepatnya Juni, saat Mas Berto, sepupuku yang tinggal di Jogja, datang ke Jakarta dan tinggal di rumahku selama menunggu panggilan kerja.

Nah, kembali ke keluarga Om Tommy, mereka memiliki banyak anjing. Dulu, ketika anjing-anjingku masih tinggal di rumah lama, aku sering bermain dengan Bali, anjing mereka yang lucu, campuran beagle dan basset hound, saat ini berusia sekitar satu tahun. Sejak Bulbul dan Socky tinggal di rumah baru ini, aku jadi jarang bermain bersama Bali karena takut anjing-anjingku sendiri cemburu.

Sore ini, saat aku tiba di rumah, rumahku tampak sepi. Mobilku tidak ada. Tapi pagar tidak digembok, berarti ada orang di rumah. Aku menelepon Mama, ternyata Mama sedang pergi dan Bapak terbang sejak siang ini. Ternyata Deany yang di rumah, tapi sedang tidur. Aku menelepon Deany, minta dibukakan pintu. Sementara aku menunggu dibukakan pintu, aku melihat Berto sedang asik bermain dengan anak pacarnya. Bali sudah dimasukkan ke rumah. Pacar Berto pun sudah bergabung dengan mereka.

Saat itu, tiba-tiba saja aku menyadari suara soang yang berisik. Tak lama, muncul sekelompok soang yang berlalu di depan rumahku. Tepatnya ada empat ekor. Aku senang sekali karena selama ini tidak pernah melihat soang berjalan di komplekku. Dengan iseng aku sengaja melepas Bulbul. Aku ingin melihat soang-soang itu dikejar Bulbul. Benar saja, begitu dilepas, Bulbul langsung mengejar soang-soang itu. Tapi ia tidak menggigit. Ia hanya senang saja membuat soang-soang itu berlari ketakutan. Aku merasa kasihan pada seekor soang yang berlari sampai masuk ke dalam got.

Tiba-tiba, Om Tommy keluar dari rumah dan memintaku mengikat Bulbul agar tidak mengejar soang-soang itu. Ya ampun! Ternyata soang-soang itu adalah peliharaan Pak Rudi, tetangga sebelah rumahku! Aku segera berusaha menangkap Bulbul. Om Tommy dan pacar Berto membantuku. Akhirnya Bulbul berhasil ditangkap dan dimasukkan ke dalam rumah. Mario yang entah sejak kapan menonton dari balkon bertepuk tangan. Hahaha! Kejadian sore ini konyol sekali.

Sementara itu, Deany yang sudah kutelepon tidak juga membukakan pintu. Baru setelah kutelepon kedua kalinya ia membukakan pintu.

Malam ini, aku menonton Indonesia Mencari Bakat bersama Deany. Selama beberapa minggu terakhir acara itu menjadi tontonan favorit kami. Favorit kami adalah Hudson si dua wajah multi talenta dan Funky Papua, trio modern dancer yang sangat keren. Selain itu, Deany juga suka Brandon si dancer kecil dan aku suka JP Millenix, anak kecil perempuan yang pandai bermain drum.

Tapi aku tidak menonton sampai habis. Aku harus menyelesaikan pekerjaan, mempersiapkan segala yang diperlukan untuk bertemu dengan salah satu calon klienku di Giant malam ini. Mama mengantarku ke Giant sector 7, atau 9 pada jam setengah sepuluh malam. Kami menunggu sampai temanku datang, dan, setelah urusanku dan temanku selesai, aku dan Mama langsung kembali ke rumah.

Jadi, itulah hari ini.

Aku senang sekali dan tak sabar menunggu hari esok karena Adrian akan pulang dari Solo!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar