Rabu, 17 Juli 2013

Hijab

Suatu hari pernah muncul sebuah pertanyaan dalam benak saya, “Seandainya setiap orang di muka bumi ini telanjang, apakah saya akan malu untuk menjadi satu-satunya orang yang mengenakan pakaian?”

Ada beberapa orang di sekitar saya yang mengatakan sesuatu yang negatif mengenai orang-orang, terutama wanita, yang mengenakan pakaian minim. Menurut mereka, wanita-wanita itu terlalu banyak mengumbar tubuhnya. Kadang sesama wanita sering mengomentari betapa pendeknya celana atau rok wanita lain, belahan dada si anu terlihat jelas, bule suka berpakaian terbuka sehingga banyak terjadi seks bebas, dan sebagainya. Anehnya, pada saat yang sama mereka juga menganggap bahwa wanita tidak seharusnya berhijab yang kainnya panjang menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan tapak tangan.

Memang benar, lebih hebat, lebih baik, apabila pria-pria dapat menahan nafsu saat di kondisi ‘normal’ seperti sekarang ini, di mana wanitanya telanjang tidak, pakai hijab juga tidak. Alangkah lebih mudah bagi para pria untuk menahan nafsu saat semua manusia menggunakan hijab. Sehingga, kalau seorang pria terbiasa melihat semua wanita menggunakan hijab, ketika melihat sedikit saja bagian tubuh wanita, yang mungkin hanya jempol kaki, sang pria tersebut bisa langsung nafsu.

Mungkin saja itu benar. Mungkin juga tidak.
Apakah hijab membuat wanita jadi lebih tidak menggairahkan? Apakah itu tujuannya? Untuk menghormati pria? Untuk menjaga agar pria tidak berbuat dosa?

Kalau dilihat seperti itu, jelas saja para wanita akan memprotes. Pria yang nafsu, pria yang dosa, kok wanita yang disalahkan? Kok wanita yang harus menjaga? Bagaimana dengan prianya? Lalu hijab dianggap sebagai sebuah bentuk pengekangan terhadap hak asasi wanita. Hak asasi yang mana?

Saya pernah membaca sebuah buku panduan berwisata yang ditulis oleh seorang wanita berhijab. Dalam buku itu, sang penulis berkisah, seorang temannya yang bule bertanya padanya, “Mengapa orang-orang muslim mengekang wanitanya dengan mewajibkan berpakaian seperti itu?”

Si penulis menjawab, saya lupa kata-kata persisnya, intinya, “Siapa bilang saya dikekang? Kalau saya tidak mau memperlihatkan tubuh saya, bagaimana? Itu kan hak saya.”

Saya tidak memandang hijab sebagai cara untuk menahan nafsu pria. Nafsu dan kegairahan itu sifatnya begitu relatif. Ada pria yang melihat wanita telanjang malah tidak bernafsu, justru kalau mengenakan sedikit pakaian, lebih membuat nafsu. Ada pria yang lebih bernafsu dengan wanita yang mengenakan seragam sekolah. Ada pria yang lebih bernafsu pada wanita yang mengenakan kostum ayam. Selera orang dalam soal nafsu begitu berbeda. Bahkan, ada lho, pria yang bernafsu melihat wanita berhijab.

Nafsu seksual pria itu akan selalu ada, tidak saja pada wanita, tapi juga pada sesama pria, anak kecil, bahkan pada yang bukan manusia sekalipun.

Jadi hijab bukanlah untuk merendahkan posisi wanita, untuk memberi wanita beban yang begitu berat, yaitu menjaga nafsu birahi para pria, bukan.

Hijab adalah cara wanita untuk menghormati bagian-bagian tubuhnya sendiri. Karena mereka yang mengenakan hijab, begitu menghargai setiap inci bagian tubuhnya sehingga tidak menginginkan siapapun untuk melihat bagian tubuh yang mereka hargai.

Saya sendiri tidak mengenakan hijab. Saya berpakaian seperti wanita pada umumnya, kadang mengenakan celana panjang dan kemeja, kadang lengan pendek. Kadang saya juga mengenakan rok selutut. Bayangkan saja, bagaimana kalau ada orang yang berkata pada saya, “Star, elo kok mau aja dikekang, suruh pakai baju seperti itu? Apa lo nggak pingin pakai baju yang lebih ‘bebas’? Memang dada lo harus ditutupin ya? Nggak panas?”

Apakah saya merasa terkekang harus menutupi dada, perut, dan punggung saya? Apakah pakaian saya menutupi sebagian tubuh saya agar tidak ada pria yang bernafsu? Tidak. Saya hanya tidak ingin memberikan orang lain akses untuk melihat bagian-bagian tubuh yang saya tutupi.

Dan ternyata, semakin maju peradaban, para wanita semakin memperlonggar batasan-batasan mereka untuk bagian tubuh yang diperbolehkan untuk diperlihatkan pada pria. Wanita pada awal abad 20 tidak mau memperlihatkan lengan, paha, bahkan betis mereka. Tidak ada yang mengenakan pakaian yang memperlihatkan lengan, paha, dan betis mereka karena pada saat itu, lengan dan kaki adalah bagian tubuh yang memalukan untuk terlihat. Di dekade 1920 – 1930 wanita mulai memperlihatkan punggung, lengan, dan sebagian kaki mereka. Setelah perang dunia ke dua, batasan-batasan itu semakin longgar. Para wanita mulai mengenakan rok-rok mini dan atasan tanpa lengan. Dan sekarang, Lady Gaga bisa jalan dengan gagahnya hanya dengan mengenakan celana dalam.

Ada pria yang ingin melihat wanita hanya mengenakan pakaian dalam? Ada wanita yang ingin berkesempatan memamerkan payudaranya tanpa harus menjadi model majalah pria dewasa? Mudah. Buatlah itu menjadi trend. Buatlah seolah wanita yang menutupi payudaranya adalah wanita yang terjajah hak asasinya.


Seandainya setiap orang di muka bumi ini telanjang, apakah kita akan malu untuk menjadi satu-satunya orang yang mengenakan pakaian? Ya. Mungkin saja kita akan malu.

Senin, 15 Juli 2013

Yang Maskulin Selalu Lebih Baik (?)

Artikel di bawah ini sebenarnya adalah sebuah artikel yang saya tulis bertahun-tahun lalu di kamar kosan saya semasa kuliah. Artikel ini kemudian saya muat di link berikut:


Dan entah mengapa tidak saya masukan di blog saya sendiri. Jadi sekarang saya akan memuatnya kembali di sini.

:

Yang Maskulin Selalu Lebih Baik (?)

Apa yang muncul di pikiran anda saat mendengar kata ‘banci’?
Dan apa yang muncul di pikiran anda saat mendengar kata ‘wanita tomboi’?
Saya bisa bilang, mayoritas pembaca mungkin mengerutkan kening dengan rasa geli atau tidak suka ketika mendengar kata ‘banci’, dan mungkin biasa saja, atau malah tertarik mendengar kata ‘wanita tomboi’.

Saya merasa beruntung menjadi wanita. Mengapa? Karena bila wanita melakukan apa yang biasa dilakukan pria, maka orang-orang akan kagum. Kebetulan saya menyukai olahraga-olahraga tertentu yang lebih banyak disukai oleh pria. Dan ternyata, bagi sebagian besar orang, itu malah menjadi daya tarik saya.
Ironisnya, bila ada pria yang menyukai hal-hal yang biasanya disukai wanita, yang terjadi justru sebaliknya. Pria itu akan dianggap banci dan dicemooh. Seringkali saya mendengar komentar seperti, “Ih, itu cowok tapi kok dandan banget?” Seriously? What is so wrong with that actually? Apakah salah ketika seseorang ingin tampil rapi dan enak dipandang?

Jujur saja, yang saya lihat, kebanyakan wanita lebih senang bila dianggap tomboi, beberapa pria lebih suka kalau pasangannya agak tomboi, sementara mungkin semua wanita mendambakan pria yang ‘cowok banget’, dan tentu tidak ada pria yang senang dianggap banci. Kata ‘banci’ memiliki konotasi negatif karena merepresentasikan sisi feminine dari seorang pria.

Ketika seorang pria berani menyakiti seorang wanita, maka komentar orang-orang, “Beraninya sama wanita! Dasar banci!”
Ketika seorang pria menunjukkan sifat pengecut, maka ia akan dibilang banci. Ketika seorang pria manja, ia dibilang banci. Bahkan pria juga bisa melakukan apapun dengan ancaman ‘dibilang banci’.

Sementara seorang wanita yang mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain, dibilang ‘tomboi’. Wanita yang serba simple dan praktis, dibilang ‘tomboi’. Wanita yang suka olahraga, dibilang ‘tomboi’.
Begitu banyak hal negatif yang dikonotasikan dengan kata ‘banci’, sementara begitu banyak hal positif yang dikonotasikan dengan kata ‘tomboi’.

Memperhatikan penampilan, ingin tampil bagus di mata pasangan, sensitif, memperhatikan pasangan dengan detail, bagi saya adalah sifat-sifat yang identik dengan wanita, dan merupakan sesuatu yang sangat baik dan positif. Namun, bila pria melakukannya, orang tidak akan menyebutnya ‘banci’, atau ‘feminine’, karena menyebut pria ‘banci’ atau ‘feminine’ bukanlah sebuah pujian bagi masyarakat umum. Pria itu akan dianggap pria idaman saja, bukan pria feminine.

Sementara, suka gonta-ganti pasangan, yang notabenenya identik dengan pria, bila wanita yang melakukan, wanita itu tidak akan disebut ‘tomboi’, tapi malah dicap ‘murahan’.
Ketika orang-orang mengetahui kegemaran saya bermain sepakbola, mereka dengan mudah menyebut saya tomboi, padahal saya feminine, dan saya tidak merasa itu sebagai pujian. Sementara ketika saya melihat seorang pria yang lembut, sensitif, dan perhatian, saya tidak bisa memujinya, “Wah, saya kagum pada anda, anda feminine sekali.” Ia pasti malah akan tersinggung.

Masyarakat melihat maskulin sebagai sifat-sifat pemberani, praktis, berpikir dengan logika, mandiri, kuat, bertanggung jawab.
Mengapa kita tidak melihat feminitas dari sisi yang lebih baik, seperti kelembutan, intuisi, sensitifitas, pengertian, detail.
Jadi, sekali lagi, masalahnya di sini adalah, mengapa ‘tomboi’ itu pujian dan ‘banci’ itu cercaan?

Sabtu, 13 Juli 2013

Lucu

Akhir-akhir ini saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan ibu saya daripada biasanya. Kami banyak mengobrol mengenai berbagai hal yang memberikan saya pelajaran berharga. Salah satu yang sering menjadi bahan perbincangan kami adalah seorang paman ibuku yang tinggal di Belanda.

Paman ibuku ini orangnya agak eksentrik. Usianya sudah begitu tua, 84 tahun, laki-laki (ya, iya lah, namanya juga paman, bukan bibi), tidak pernah menikah, sudah tinggal seorang diri di Belanda sejak muda. Ia tidak punya teman, tidak senang bergaul, penuh rasa curiga, dan selalu ketakutan. Paman ibuku ini sudah buta karena terkena katarak, dan kini tinggal di sebuah panti jompo di Belanda sana.

Saya pernah beberapa kali mengunjungi panti jompo tersebut bersama ibu dan sepupu saya. Paman ibu saya itu pun beberapa kali pernah berlibur ke Indonesia. Saya melihat, orang-orang yang mengenalnya, termasuk saya, sependapat bahwa pria tua ini sudah pikun, tidak tahu apa-apa, selalu mengeluh mengenai kehidupan dip anti jompo, tapi tidak pernah betah berlama-lama di Indonesia, nyinyir, keras kepala, dan sebagainya.

Nah, apakah ibu saya pernah bicara sesuatu yang jelek sedikitpun tentang pamannya? Tidak!

Ibu saya begitu mencintai pamannya. Setiap tahun ibuku selalu menyempatkan untuk mengunjungi pamannya, karena begitu sayangnya pada sang paman. Dengan sabar dirawatnya sang paman yang buta, dimanjakan, dibuat senang. Setiap perkataan ibuku mengenai pamannya adalah kata-kata yang begitu baik, begitu menghormati, begitu menyanjung sang paman.

Ibu saya ini orangnya polos. Beliau bukan orang yang memikirkan lebih dulu apa yang dilakukan maupun yang dikatakannya. Jadi, apa yang keluar dari mulutnya selalu adalah apa yang benar-benar dirasakannya. Ketika beliau berbuat baik pada seseorang, kebaikannya begitu tulus. à There! Finally I have something good to say about my mother…hehe joking… love you Mom :*

Nah sekarang, siapa yang pernah mendengar kata-kata bijak “Jika kamu tidak bisa mengubah seseorang, ubahlah cara pandangmu terhadap orang tersebut.”

Paman dari ibu saya itu sudah puluhan tahun memiliki kepribadian yang demikian. Tidak akan ada seorangpun yang mampu mengubahnya menjadi kepribadian yang lebih baik. Kebetulan, ibu saya pun tentunya tidak merasa kepribadian pamannya perlu diubah. Yang dilakukan ibu saya, secara tidak sadar, adalah melihat pribadi pamannya dari sisi yang berbeda. Begitu besarnya kasih ibu saya kepada sang paman, sehingga semua kelakuannya, yang didefinisikan setiap orang lainnya sebagai keras kepala, sok tahu, angkuh, penuh curiga, didefinisikan ibu saya hanya dengan sebuah kata ‘Lucu’.

Ketika seseorang mengawali cerita mengenai sang paman dengan kata-kata, “Benar-benar orangtua yang nyinyir…”, maka ibu saya akan mengawali cerita yang sama persis dengan kata-kata, “Opa lucu sekali deh…”

Begitulah cara ibuku memandang paman yang sangat dicintainya.

Berikutnya mengenai sepupu saya. Sepupu saya adalah seorang anak tunggal yang begitu disayang oleh kedua orangtuanya. Sepupu saya ini pun begitu mencintai kedua orangtuanya. Walaupun begitu, ada kalanya, terjadi hal-hal yang membuat orangtuanya marah-marah.

Saya sebagai anak, ketika dimarahi oleh orangtua, reaksi yang biasa terjadi adalah curhat tentang orangtua. “Orangtua saya begini, orangtua saya begitu, saya adalah anak paling tidak beruntung di dunia, dan sebagainya.” Tapi saya melihat, ketika sepupu saya bicara mengenai orangtua yang memarahinya, satu kata yang digunakan untuk menggambarkan orangtuanga, “Lucu.”

Sepupu saya akan bercerita dengan penuh sukacita betapa lucunya kedua orangtuanya saat marah-marah, persis seperti seorang ibu yang bercerita dengan penuh kasih mengenai anak balitanya yang nakal.

Begitu juga dengan ayah saya. Pada suatu ketika, ayah saya sedang berada di dalam mobil yang dikemudikan adik saya, di tengah-tengah jalan raya yang padat merayap. Tiba-tiba saja muncul seorang pengendara motor yang menyalip-nyalip di antara mobil dengan sempoyongan. Pengemudi mobil pada umumnya mungkin akan ketakutan atau misuh-misuh takut mobilnya tersenggol si motor yang sempoyongan. Tapi ayah saya malah tertawa dan membuat lelucon tentang pengemudi motor tersebut, yang akhirnya membuat adik saya tertawa. Sesuatu yang membuat senewen pun ternyata bisa menjadi sesuatu yang lucu kalau kita berpikir bahwa itu lucu.


Begitu juga dengan cara pandang ayah saya mengenai pensiun. Banyak orang, terutama pria, setelah pensiun, mengalami apa yang disebut sebagai 'Post Power Syndrome'. Itu karena kebanyakan orang memandang 'pensiun' sebagai akhir dari masa produktif, akhir dari... entahlah bagaimana mereka memandang pensiun.
Namun, bagi ayah saya, pensiun merupakan sebuah berkah yang disyukurinya. Ayah saya bisa berlibur dengan keluarga, bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, menghabiskan waktu lebih banyak untuk hobinya bermain musik, dan sebagainya.

Karena itu, ketika saya mendengar banyak pria yang setelah pensiun menjadi lebih sensitif, lebih mudah marah, dan lebih menyebalkan, saya begitu bersyukur bahwa setelah pensiun, ayah saya justru jadi lebih bijak, dan bahkan jauh lebih sabar dalam menghadapi istri dan anak-anaknya (yang sering kurang ajar...hehe love you pop...)

Jadi, mengubah keadaan atau seseorang yang tidak mau berubah, memang sangatlah sulit. Dan belum tentu ada gunanya bagi kita. Dan tentu kita sendiri sadar bahwa kita belum cukup sempurna untuk bisa mengubah orang lain. Namun mengubah cara pandang kita mengenai orang lain atau suatu keadaan ternyata begitu mudahnya. Dan itu memberikan efek yang jauh lebih baik bagi kita. J

Orang yang Baru

Sudah sebulan lebih saya tidak menulis sesuatu yang baru di blog ini. Sebelumnya, walaupun sangat terlambat, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Semoga berkah.

Setelah memperhatikan pola menulis saya, saya baru saja menyadari, setiap kali mulai kembali menulis, saya telah menjadi pribadi yang lebih baru, yang berbeda dengan sebelumnya. Tentu pribadi yang saya rasa lebih baik dari yang sebelumnya. Yah, mudah-mudahan benar-benar lebih baik, bukan perasaan saya saja. Karena kalau pribadi yang sebelumnya lebih baik, buat apa saya berubah.

Biarpun begitu, saya tidak akan menghapus apapun yang sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya, karena itu akan menjadi refleksi langkah demi langkah perubahan diri.

Kalau biasanya saya curhat atau cerita mengenai keseharian saya, sepertinya mulai post yang ini dan seterusnya, saya akan lebih banyak menulis mengenai pemikiran-pemikiran dan filosofi kehidupan yang saya pelajari selama ini.

Saya begitu beruntung, begitu diberkahi Tuhan, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat luar biasa, di manapun saya berada, mulai dari rumah, sekolah, kuliah, lingkungan kerja, bahkan orang-orang yang saya temui di luar semua itu. Terutama akhir-akhir ini saya mengenal dengan sangat baik seorang penulis blog yang sangat cerdas. Beliau banyak memberikan pandangan baru yang begitu menyegarkan pada saya.

Semoga di tulisan-tulisan setelah ini saya tidak terkesan menggurui. Saya tidak merasa benar. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya pelajari dari orang-orang hebat di sekitar saya. Karena mungkin tidak semua orang dikelilingi oleh orang-orang hebat.

Kamis, 16 Mei 2013

Depression

Thursday, May 16, 2013

No. Not me..haha

I just remembered that last Wednesday, April 8, I met this girl from University of Indonesia Faculty of Psychology.
I got her number from twitter. One of followers of one of my followers retwitted her twit about her need of patients with depression. She needed some female respondents, 20 - 40 years old, and gave her number there. So I met up with her.

She was very nice and charming. Maybe it's part of her job. We talked. She dug my personal information and I gladly gave her everything since she's a psychologist. And... good news, I don't have depression. But I have Narcissistic Personality Disorder and some Obsessive and Compulsive Disorders, and some other personality disorder. And I got very good new knowledge about the symptoms of depression.

Those symptoms are:
1. Feel sad and drowning, can't heal the pain even if we want to
2. Lack of self worth
3. Either can't stop eating or don't wanna eat at all
4. Either can't sleep or sleep for a very long time
5. Don't care about taking shower, washing hair, and appearance stuffs
6. Not interested in doing hobbies or interests
7. Blaming
8. Don't wanna meet people
9. Suicidal

To be called people with depression we need to have at least 5 of the symptoms, and they have to last for about 2 weeks.

I feel sad sometimes. I'm in a gloomy mood sometimes. But it's just because I'm a drama queen. I have the urge to make some dramas in my life.
Stop eating is something difficult for me, but it's just my bad eating habit.
I sleep for a very long time and sometimes can stay awake all night. But it just depends on my mood. Sometimes I feel so tired because I'm simply a lazy couch potato. Some other times I just stay awake all night because I have something to write, some ideas, some thoughts, etc.
I don't care that much about my appearance. But that's because I don't think it matters.
I don't wanna meet people only when I'm in the mood of being alone. Because sometimes I just enjoy being left alone, only talking with myself, write something, do something fun alone. It's priceless!
Suicidal? Hell no! I hate death!

And I don't have them for two weeks. They just come and go.
So, okay, that's all I wanna say in this post.

Bye!

Selasa, 10 Juli 2012

The reason why I didn't write anything about the final

Tuesday, July 10, 2012


So, you might wondering, after all those posts about Euro 2012, match to match, the scores, the details, and all, why didn't I write anything about the final? Well, you might wondering, or you might not, because you already understand what I feel.
What? Did I say I was neutral? Yes! I was! I am!
Well, you know, I am neutral. In the beginning of the tournament I said I wish Italy and Spain met at the final, and they did. So, I was really happy about that, and I was about to be happy of whoever wins the game.

But..... 4 - 0?? Guys! Really??

It was a shock therapy for me!
I thought--or maybe I should say I wished--it would be penalties at the end. Because I didn't want anymore goals to each teams goal. Both Casillas and Buffon were the best goalkeeper in that tournament. Their goals were the cleanest of all contestants. Before the final, there was only one ball went to Casillas' goal, and there were only 3 balls went to Buffon's goal, and the last one was penalty.
So, basically I just didn't want their goals to be added more balls. I think it would just ruin their statistics. Especially if Spain made goals. Because Germany's goal in Italy last match before the final has made their...

Minggu, 01 Juli 2012

The Final of My Dream


lunedi, 2 giugno, 2012

This is the final of my dream!

Since the first time I started watching football, this is the first time my two favorite teams meet at the final.

As you may already know, I started watching football from World Cup 1998. The final was Brazil vs France. I was so upset when France beat Brazil 3 – 0. The next big international tournament is Euro 2000, the final was Italy vs France, and again, France beat my favorite team for the second time, the score was 2 – 1 for France, and they got the trophy. That’s why I hate France. Well, used to hate them.

My first two big tournaments were upsetting. But the next tournaments always satisfied me, especially World Cup 2002, when Brazil won the World Cup for the 5th times, and my superhero Ronaldo got the golden shoes by 8 goals. Fantastic! They beat Germany 2 – 0 in the final.
Euro 2004 final was weird and unpopular. It was between Greece and Portugal. So I wasn’t really supporting any of them. Although I loved Nuno Gomes, Luis Figo, and Rui Costa. I think there were no Cristiano Ronaldo back then.

Then World Cup 2006 final, Italy vs France. Italy won by penalties. It was a bad game, but I’m glad that France, my enemy, was defeated by one of my favorite team, Italy. Then Euro 2008, I’m so glad to see Spain beat Germany in the final. It was 1 – 0 for Spain. Yeay!
And the last but not least, 2 years ago, Spain beat Netherland in World Cup 2010 final. Woohoo!

So, since the first time I watched big football tournaments, I’ve never seen two of my favorite teams meet each other at the final. Of course I’ve always wished Italy and Brazil would meet on World Cup final, or Spain and Italy meet on Euro final. But it never happened since 1998.
So, now I’m so happy because since this Europhoria started on June 8, I’ve been wishing to see Italy and Spain in the final. And it happens now! Now I don’t really care who’ll win the cup. They’re both my favorites, they’re both very good teams, they’ve played very well so far, they’ve got brilliant players… Oh, well, Spain’s got more brilliant players, meanwhile, I think the ones really good in Italian team are only Andrea Pirlo, Antonio Cassano, Mario Balotelli, and of course, the one of the best goalkeeper, Gianluigi Buffon.

Now about my prediction for this final.

I think both Spain and Italy have got good materials. Both teams have got the best goalkeepers in the world, Iker Casillas and Gianluigi Buffon.
Italy's got the best defenders, plus Andrea Pirlo, the midfielder, also helps with the defense. For defense, I think Italy's got better materials, but in this tournament so far, Spain's got the least GA (whatever it is, I just don't know how to mention the one team who's the goal being... goaled?).

Spain's got wonderful midfielders like Cesc Fabregas, Xabi Alonso, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Sergio Busquets. Most of them play in FC Barcelona: team with the best midfielders. Italy's only got Andrea Pirlo. Match after match he's the only player who really worked through the midfield. He's the playmaker, he's always the man of the match.

For strikers, Spain's got Fernando Torres and well... the rests are not really useful. Except maybe Jesus Navas, at least he made a goal against Croatia. Meanwhile, Italy's got Antonio Cassano, Mario Balotelli, and Antonio diNatale. They're genius! And they've made some very great goals, especially Balotelli.

Their coaches, Cesare Prandelli and Vincente Del Bosque, are surely have got different characters, and also different background.
Cesare Prandelli used to bring serie B teams to be promoted to serie A, such as Verona and Venezia. Meanwhile, Vincente Del Bosque was once a coach of the biggest club, most glamorous club in the world, Real Madrid. He's been coaching some superstars such as Ronaldo, Beckham, Zidane, Carlos, Figo, etc.
Seeing how they've lead their teams so far, Spain plays very consistent with attacking character, entertaining ball flow. They always play beautiful and entertaining. Italy, they seemed changing their game all the time. Prandelli seems to do some experiments with his players. But anyway, it always works, at least for the last 3 matches.

In this tournament, on their first match in the group, they played even 1 - 1. Then Spain was the leader of the group, while Italy was only the runners-up. Italy played even with Croatia and only won against the weakes team of that group, Ireland. In the quarter-final, Spain beat France, the runners-up of group D, while Italy beat England, the leader of group D. Before final, Spain beat Portugal, the runners-up of group B, by penalties, while Italy beat Germany, that used to be the most promising team before.

For these last 4 - 6 years, Spain seems to be pretty consistent team. They played very well in international tournaments. They've won the Euro 2008 in Swiss-Austria, then continued with the World Cup 2010. Everyone think that they'd gonna keep going with this one. Spain got great players, with good attitude.  They have fair play.


Italy's achievements for these last 4 year are not really satisfying. They didn't go to the round of 16 in World Cup 2010, and they was beaten by Spain in Euro 2008. But Italian squad is now totally different. You can see it very clearly. The way they play, the way they dominate the game. They didn't start this tournament very well, but they've beaten two big teams, England and Germany. They've been getting better in attacking, while still great at defense. And don't forget, Italy has proven itself as the only team that can make a goal to Spain's goal for the whole tournament.

Now seeing the history, Italy won Euro 1968 after Spain won Euro 1964. Then both teams never won the trophy until Euro 2008, who was won by Spain. So, if Italy always got the trophy after Spain, will this year be the same?

Last thing...
Both Italy and Spain have ended one of their matches in this tournament with penalties. And in the last Euro, Euro 2008, Spain beat Italy also by penalties. No wonder, both teams got the best defense!

So..., would it be another penalties?

Let's watch guys!!
Viva españa! Forza Italia!!