Tampilkan postingan dengan label babak 16 besar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label babak 16 besar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

Last Match on Top 16: Belgium vs USA

Belgium 2            –             1 USA
Kevin De Bruyne ’93         Julian Green ‘107
Romelu Lukaku ‘105

Pertandingan terakhir di babak 16 besar Piala Dunia 2014 menampilkan dua tim yang, bisa dibilang, sama-sama underdog. Walaupun begitu, sepak terjang Belgia sepanjang babak penyisihan grup, memang lebih meyakinkan daripada USA. Belgia memenangkan tiga dari tiga pertandingan di babak penyisihan grup. Sementara Amerika dikalahkan Jerman di pertandingan terakhir, dan hanya bermain imbang di laga ke dua mereka melawan Portugal. Yah, Portugal sama Jerman sih. Sementara lawannya Belgia 'hanya' Russia, South Korea, dan Algeria.

Bagaimanapun, pertandingan ini berlangsung sama alotnya dengan tujuh pertandingan lainnya yang sudah berlangsung di babak 16 besar. Dari total delapan pertandingan, pertandingan Belgia melawan USA ini menjadi pertandingan ke lima yang memasuki babak perpanjangan waktu. Babak perpanjangan waktu pun masih saja berlangsung sengit. Belgia mencetak gol di menit ke-93 melalui Kevin De Bruyne. Gol itu membuat pertandingan yang mulai basi, kembali memanas.

Di akhir perpanjangan waktu babak pertama, Romelu Lukaku memperbesar keunggulan Belgia menjadi 2 - 0. Namun, hanya dua menit setelah perpanjangan waktu babak ke dua dimulai, USA sudah berhasil memperkecil ketinggalan menjadi 1 - 2, melalui gol Julian Green. Gol di awal babak perpanjangan waktu ke dua itu membangkitkan optimisme para suporter Amerika. Namun akhirnya, juara grup kembali keluar sebagai pemenang.

De Bruyne, pencetak gol krusial bagi Belgia

Boong deng, yang bener ini... ya nggak jauh beda lah ya.

Lucunya, pertandingan Belgia melawan USA ini, yang notabene adalah juara grup H melawan runners-up grup G, mengingatkan pada pertandingan Jerman melawan Algeria, yang merupakan juara grup G melawan runners-up grup H. Kedua pertandingan yang mempertemukan jebolan grup G dan H sama-sama berakhir tanpa gol di babak pertama dan ke dua, dan di babak perpanjangan waktu, si pemenang mencetak satu gol di awal babak pertama, lalu satu gol lagi, yang langsung dibalas dengan satu gol oleh si kalah, yang hanya memperkecil ketinggalan mereka, namun akhirnya tetap kalah.

Yah, hanya saja, pertandingan Belgia melawan USA ini jauh lebih membosankan. Jaaaauh lebih membosankan. Bayangin, udah 2x45 menit, plus 2 babak perpanjangan waktu, membosankan pula.

Btw guys, ini Piala Dunia kok kaya diatur gini ya? Tim-tim favorit baru bisa ketemu paling cepet di semifinal. Terus probabilitasnya itu semifinal dua-duanya tim favorit Amerika Latin vs Eropa (Brazil vs Jerman/Prancis dan Argentina vs Be land a). Cuma Jerman aja sih yang ketemu Prancis di perempat final. Tapi ya abis mereka mau ketemu siapa lagi? Brazil? Argentina? Belanda? Tim favorit ada 5, pertandingannya cuma ada 4. Ya ketemulah 2 dari 5..

Anyway, setelah banyaak kejutan di babak penyisihan grup, ternyata nggak ada kejutan di babak 16 besar. Pemenangnya semuanya juara grup. Kecuali bahwa ternyata, tim-tim yang dianggap underdog, nggak bisa dikalahkan dengan mudah seperti perkiraan orang. Dari delapan pertandingan di babak 16 besar, cuma Colombia lho yang bisa mengalahkan lawannya dengan dua gol, tanpa balas, tanpa bunuh diri, tanpa curang, tanpa extra time, dan jelas lah tanpa penalty. Yang lainnya, dua pake penalty, satu pake curang, Riga pake extra-time, satunya lagi 2-0 juga tapi salah satunya own goal lawan, satu nggak pake sambel, satu nggak pake bihun...apa sih..

Tapi jangan lupa, masing-masing menghadapi lawan yang berbeda lho! Bukan berarti yang menangnya adu penalty nggak bisa menang lawan yang menangnya 2-0. Bukan berarti yang menangnya adu penalty nggak bisa ngalahin yang menang dalam 2x45 menit tapi pake curang.

Pencetak gol terbanyak sementara:
5
James Rodríguez (Colombia)

4
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)
Thomas Muller (Germany)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic, Ivan Perisic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho, Wilfried Bony (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew, Asamoah Gyan (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)
Bryan Ruiz (Costa Rica)
Abdelmoumene Djabou (Algeria)

1
Oscar, Fred, Fernandinho, David Luiz (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez, Giovani Dos Santos (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer, Wesley Sneijder, Huntelaar (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Matt Hummels, Mario Gotze, Miroslav Klose, André Schürrle, Mesut Özil (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones, Julian Green (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko, Paul Pogba (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras, Sokratis Papastathopoulos (Greece)
Marcos Rojo, Angel Di Maria (Argentina)
Reza (Iran)


146 gol dicetak 108 pemain dari 32 tim/negara.

Top 16, 7th Match: Argentina vs Switzerland

Argentina 1         –             0 Switzerland
Angel di Maria ‘118

Lagi-lagi, pertarungan sengit terjadi di babak 16 besar, antara tim favorit melawan tim kuda hitam. Kali ini Argentina yang berhadapan dengan Switzerland. Switzerland, yang sangat tidak diunggulkan, harus berhadapan dengan sebuah tim dengan nama besar, yang di dalamnya terdapat bintang-bintang dunia, termasuk seorang pemain ajaib yang merupakan pemain terbaik dan termahal di dunia saat ini, Lionel Messi.

Gimana ya rasanya berhadapan dengan seorang Lionel Messi?

Switzerland menerapkan pola permainan bertahan yang sangat rapi dan ketat. Seperti tim-tim lain yang menghadapi Argentina sebelumnya, Switzerland menerapkan strategi yang sama: kawal ketat Messi!

Tampaknya strategi mereka cukup berhasil. Dengan keunggulan postur para pemainnya yang tinggi besar namun lincah-lincah, Switzerland berhasil menahan imbang Argentina dengan skor 0 - 0 sepanjang babak pertama dan babak ke dua. Pertandingan pun dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Dan di babak perpanjangan waktu pun, Argentina masih saja buntu.

Setelah pertandingan yang berlangsung alot selama dua kali 45 menit, plus dua babak extra time setelahnya, akhirnya Angel Di Maria memecah kebuntuan Argentina selama hampir 120 menit, menyambut umpan yang sangat cantik dari Lionel Messi, yang menurut saya pantas menjadi man of the match dalam pertandingan ini.

Switzerland sudah menunjukkan perlawanan yang begitu gigih. Mereka sudah nyaris sekali memaksa Argentina menyelesaikan pertandingan melalui adu penalty. Namun, Lionel Messi dkk memang tak terbendung. Apa boleh buat. Setelah perjuangan panjang mereka, mengalahkan Ecuador 2 - 1, sempat dibantai Prancis dengan skor telak 5 - 2, namun melibas Honduras 3 - 0 di akhir babak penyisihan grup, akhirnya perjalanan Switzerland di Piala Dunia 2014 harus terhenti di tangan Argentina.

Top 16, 6th Match: Germany vs Algeria

Germany 2          –             1 Algeria
André Schürrle ’92            Abdelmoumene Djabou ‘120+1

Mesut Özil ‘120

Dari semua pertandingan di babak 16 besar ini, dua pertandingan yang paling menarik dan enak ditonton adalah pertandingan Prancis melawan Nigeria dan Jerman melawan Algeria. Keduanya menampilkan dua negara Eropa yang tangguh melawan dua negara Afrika yang gigih dan pantang menyerah.

Saat menonton kedua pertandingan ini, mungkin beberapa dari penonton bisa merasakan, betapa berbedanya tempo permainan dan juga mental para pemain. Tidak seperti beberapa pertandingan sebelumnya yang penuh dengan pura-pura jatuh, para drama queen yang berakting kesakitan, dan usaha-usaha mencari simpati wasit, dua pertandingan yang terjadi malam ini justru menampilkan para pemain yang berusaha untuk tetap berdiri dan berlari walau sudah berjibaku dengan lawan.

Jerman sangat diunggulkan dalam pertandingan melawan salah satu tim kuda hitam Algeria di babak 16 besar. Dengan nama besar, kualitas pemain-pemainnya, dan sepak terjang yang sudah ditunjukkan selama babak penyisihan grup, mungkin sudah banyak yang meramalkan Jerman akan mengalahkan Algeria, yang bahkan bukan langganan Piala Dunia.

Pada akhirnya Jerman memang menang dan lolos ke babak perempat final. Namun siapa sangka, Algeria ternyata mampu mempertahankan gawang mereka dari serangan Jerman selama 2x45 menit?

Setelah bermain imbang tanpa gol selama babak pertama dan ke dua, pertandingan harus dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Namun, babak perpanjangan waktu baru saja berjalan dua menit, akhirnya pertahanan Algeria jebol juga. Adalah André Schürrle yang mencetak gol pertama bagi Jerman.

Ketinggalan 1 gol tidak mengendurkan semangat para pemain Algeria. Selama sisa dua babak perpanjangan waktu, mereka terus berusaha membalas gol Jerman, sambil masih berusaha mempertahankan gawang mereka sendiri. Namun, sayang sekali bagi Algeria, di akhir perpanjangan waktu babak ke dua, Jerman malah berhasil memperbesar keunggulan menjadi 2 - 0 melalui gol Mesut Özil.

Tidak sampai satu menit kemudian, Algeria memang langsung membalas gol itu melalui gol Abdelmoumene Djabou. Tapi gol itu hanya memperkecil ketinggalan mereka menjadi 1 - 2. Dan tak lama kemudian, waktu habis, dan pertandingan berakhir tanpa satu tim pun menambah gol lagi.

Bagaimanapun, kita pantas menaruh respek pada Nigeria dan Algeria yang telah menampilkan permainan terbaik mereka, dan juga Prancis dan Jerman, dua tim tangguh yang tidak perlu curang untuk mengalahkan lawan-lawan tangguh mereka. Salute!

Pencetak gol terbanyak sementara:
5
James Rodríguez (Colombia)

4
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)
Thomas Muller (Germany)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic, Ivan Perisic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho, Wilfried Bony (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew, Asamoah Gyan (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)
Bryan Ruiz (Costa Rica)
Abdelmoumene Djabou (Algeria)

1
Oscar, Fred, Fernandinho, David Luiz (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez, Giovani Dos Santos (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer, Wesley Sneijder, Huntelaar (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Matt Hummels, Mario Gotze, Miroslav Klose, André Schürrle, Mesut Özil (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko, Paul Pogba (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras, Sokratis Papastathopoulos (Greece)
M. Rojo (Argentina)
Reza (Iran)


142 gol dicetak 104 pemain dari 32 tim/negara.

Top 16, 5th Match: France vs Nigeria

France 2               –             0 Nigeria
Paul Pogba ’79

Joseph Yobo ‘90+2

Pertandingan ke lima di babak 16 besar ini berlangsung alot. Nigeria menampilkan pertahanan yang begitu ketat. Namun, pertandingan jauh dari membosankan. Selama babak pertama dan ke dua, baik Prancis maupun Nigeria saling menyerang dengan agresif.

Setelah bermain imbang tanpa gol di babak pertama, di babak ke dua, Prancis tampil lebih agresif lagi. Selama babak ke dua, Tim Ayam Jantan memang lebih banyak menguasai permainan. Serangan-serangan mereka juga lebih tajam, dan menciptakan banyak sekali peluang gol.

Namun barisan pertahanan Nigeria luar biasa kuatnya, rapat, dan seolah tidak kenal lelah. Beberapa kali baik penjaga gawang maupun pemain-pemain bertahan Nigeria melakukan penyelamatan yang, bisa dibilang, nyaris mustahil. Namun, setelah serangan demi serangan, akhirnya pertahanan Nigeria jebol juga. Di menit ke-79, Paul Pogba akhirnya memecahkan kebuntuan Prancis dengan golnya yang membawa Prancis unggul 1 - 0.

Gol itu tampaknya metuntuhkan mental anak-anak asuhan Stephen Keshi. Setelah gol Pogba itu, barisan pertahanan Nigeria jadi agak mengendur. Bahkan di injury time babak ke dua, kapten Joseph Yobo melakukan gol bunuh diri, yang malah memperbesar keunggulan Prancis menjadi 2 - 0.

Setelah gol itu, Nigeria seolah langsung kehilangan harapannya. Akhirnya Prancis menjadi juara grup ke lima yang lolos ke babak perempat final.

Senin, 30 Juni 2014

Top 16, 4th Match: Costa Rica vs Greece

Costa Rica 1 (5)  –             1 (3) Greece
Bryan Ruiz ’52                   Socratis Papastathopoulos ‘90+1

Persis seperti Brazil, Costa Rica hampir saja tidak jadi menang saat menghadapi Yunani di babak 16 besar dini hari tadi.
Pada babak pertama, tanpa disangka, Yunani yang merupakan runners-up di grup C, grup yang paling tidak diunggulkan, ternyata malah lebih menguasai pertandingan dibandingkan dengan Costa Rica, yang berhasil menjadi juara di grup yang berisikan tiga tim 10 besar peringkat FIFA. Selama babak pertama Costa Rica cukup kewalahan menghadapi Yunani. Cukup banyak peluang yang terjadi yang gagal dimanfaatkan oleh pemain-pemain Yunani maupun Costa Rica.
Namun, setelah bermain imbang tanpa gol di babak pertama, gol Bryan Ruiz di menit ke-52 akhirnya memecahkan kebuntuan Costa Rica.
Gol itu tampaknya cukup memanaskan aura pertandingan. Apalagi, kemudian Oscar Duarte mendapat akumulasi kartu kuning di menit ke-66 karena menyelengkat pemain Yunani (jangan harap gue inget namanya) dari belakang.
Meski harus bermain dengan 10 pemain, Costa Rica masih mampu menahan serangan demi serangan dari Yunani. Menjelang akhir pertandingan, Costa Rica sudah hampir saja membukukan kemenangan dan melenggang bebas ke babak perempat final.
Namuuun...sesuai kekhawatiran saya... satu menit memasuki injury time, Yunani tiba-tiba saja menyamakan kedudukan menjadi 1 - 1 lewat gol Papastathopoulos! Satu sih yang gue penasaran sama pemain Yunani yang satu ini: itu nulis namanya di punggung kaya apa? Panjang bener!
Googling aja kali...
Oh iya bener...

Nama punggung Sokratis Papastathopoulos di seragam timnas

Yaaah...curang...kaya gitu doang ternyata... Ditulisnya Sokratis-nya. Curang. Yang lain kan pada ditulis nama keluarganya. Kenapa dia beda sendiri? Kaya pemain Amerika latin aja, ditulis nama depannya.

Tuh, yang di Milan juga gitu nulisnya.

Nah ini dia! Gini doang sih ternyata.

Eniwei...ini lagi ngomongin apa sih tadi? Kok bisa sampe sini?
Oh iya, jadi kan kedudukannya 1 - 1 nih sampai akhir pertandingan. Maka pertandingan ini pun menjadi pertandingan ke dua yang harus melalui extra time. Sama juga seperti Brazil vs Chile kemarin, dua babak extra time tidak menghasilkan satu gol pun, sehingga ini pun menjadi pertandingan ke dua di babak 16 besar yang harus diselesaikan melalui adu penalty.

Penendang pertama adalah Celso Borges dari Costa Rica. Masuk! 1 - 0 bagi Costa Rica.
Tapi penendang pertama dari Yunani pun, salah satu pemain bintang Yunani, Konstantinos Mitroglou, juga berhasil memasukkan bola, sehingga menyamakan kedudukan jadi 1 - 1.
Sampai penendang ke dua dan ke tiga dari kedua tim, Bryan Ruiz dan Giancarlo Gonzales dari Costa Rica, dan Lazaros Christodoulopoulos (waaah namanya lebih panjang lagi!) dan Jose Holebas dari Yunani, tidak ada satupun yang gagal memasukkan bola. Penendang ke empat dari Costa Rica, Joel Campbell, juga berhasil memasukkan bola. Dan ternyata, setelah tujuh pemain berhasil mengeksekusi giliran mereka masing-masing, pada akhirnya, Theofanis Gekas dari Yunani menjadi penendang pertama yang gagal memasukkan bola! Suasana langsung meriah dengan sorakan para suporter Costa Rica.
Kegagalan Theofanis Gekas itu membuat kedudukan menjadi 4 - 3 bagi keunggulan Costa Rica. Maka, begitu Michael Umaña, yang menjadi penendang terakhir dari Costa Rica, berhasil memasukkan bola, pertandingan langsung berakhir. Kemenangan adu penalty 5 - 3 bagi Costa Rica.

Costa Rica memang pantas menang. Walaupun menang lewat adu penalty, mereka sudah bermain dengan 10 pemain selama 54 menit terakhir pertandingan, dan berhasil menahan gempuran Yunani.

Costa Rica menjadi juara grup ke empat yang berhasil lolos ke babak perempat final. Setelah juara grup A, B, C, dan D berhasil lolos ke babak perempat final, akankah para juara dari grup E, F, G, dan H menyusul?

Dari segi benua, dari empat negara yang sudah lolos ke perempat final, tiga di antaranya berasal dari benua Amerika. Akankah dua negara benua Amerika lainnya lolos ke perempat final? Kita tunggu jawabannya!

Pencetak gol terbanyak sementara:
5
James Rodríguez (Colombia)

4
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)
Thomas Muller (Germany)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic, Ivan Perisic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho, Wilfried Bony (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew, Asamoah Gyan (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)
Bryan Ruiz (Costa Rica)

1
Oscar, Fred, Fernandinho, David Luiz (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez, Giovani Dos Santos (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer, Wesley Sneijder, Huntelaar (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Matt Hummels, Mario Gotze, Miroslav Klose (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Abdelmoumene Djabou, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras, Sokratis Papastathopoulos (Greece)
M. Rojo (Argentina)
Reza (Iran)


138 gol dicetak 101 pemain dari 32 tim/negara.

Minggu, 29 Juni 2014

Top 16, 3rd Match: Netherlands vs Mexico

Netherlands 2     –             1 Mexico
Wesley Sneijder ’88          Giovani Dos Santos ‘48

Klas Jan Huntelaar ‘90+4 (p)

Babak 16 besar kembali menyajikan pertandingan yang panas dan menegangkan. Kali ini Belanda sebagai juara grup B yang berhadapan dengan Mexico sebagai runners-up grup A. Pertandingan yang dilangsungkan di Fortaleza ini sempat dihentikan untuk cooling break pada pertengahan babak pertama dan pertengahan babak ke dua, saking panasnya cuaca di stadion saat itu. Pada babak pertama, Belanda terlihat seolah kehilangan grip. Mexico tampak lebih banyak menguasai bola dan membuat para pemain Belanda kewalahan. Namun tidak tercipta satu gol pun di babak pertama.
Hampir sepanjang babak ke dua, Mexico dan para suporternya optimis akan memenangkan pertandingan. Pasalnya, babak ke dua baru saja berjalan 3 menit, Giovani Dos Santos sudah mencetak gol yang membawa Mexico unggul 1 - 0. Keunggulan itu dinikmati Mexico selama hampir seluruh babak ke dua. Walaupun terjadi begitu banyaknya peluang, Belanda terus-menerus gagal mengeksekusi menjadi sebuah gol. Semakin mendekati akhir pertandingan, supporter Belanda semakin pesimis. Namun, tragis bagi Mexico, hanya beberapa menit menjelang berakhirnya pertandingan, terjadi kemelut di depan gawang, yang berakhir dengan gol yang dicetak Wesley Sneijder di menit ke-88. Gol itu sendiri sangat cantik. Saat terjadi kemelut di depan gawang, Sneijder berlari menyambut bola panas, dan melepaskan tembakan mendatar yang sangat tajam membobol gawang Ochoa.
Gol Sneijder memberikan semangat baru bagi Belanda dan para supporternya. Pertandingan kembali memanas. Baik Mexico dan Belanda menjadi lebih ngotot, sekaligus lebih berhati-hati. Sayangnya, pertandingan yang apik ini harus berakhir dengan kontroversial. Pada injury time babak ke dua menit ke-4, Arjen Robben sengaja menjatuhkan diri di kotak penalty, dan wasit memberikan keputusan yang sangat menyedihkan itu: hadiah penalty bagi Belanda. Penalty itu sukses dieksekusi oleh Klas Jan Huntelaar. Satu menit kemudian wasit meniup peluit panjang yang memupuskan harapan Mexico. Belanda pun melaju ke babak perempat final dengan caranya yang sangat memalukan.

Top 16, 2nd Match: Colombia vs Uruguay

Colombia 2         –             0 Uruguay
James Rodriguez ’28, ‘50

Di pertandingan ke dua pada babak perdelapan final ini, Colombia kembali memperpanjang rekor kemenangannya setelah melibas Uruguay dengan skor 2 - 0. Kedua gol dicetak oleh mesin gol Colombia, James Rodriguez pada menit ke-28 dan 50. Dua gol itu mengantarkan Rodriguez ke puncak daftar pencetak gol terbanyak sementara, dengan 5 gol, mengalahkan Messi, Neymar, dan Thomas Muller yang sempat menjadi pencetak gol terbanyak dengan 4 gol.

Pencetak gol terbanyak sementara:
5
James Rodríguez (Colombia)

4
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)
Thomas Muller (Germany)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Ivan Perisic (Croatia)
Wilfried Bony (Ivory Coast)
Asamoah Gyan (Ghana)                      
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)

1
Oscar, Fred, Fernandinho, David Luiz (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña, Bryan Ruiz (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Matt Hummels, Mario Gotze, Miroslav Klose (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Abdelmoumene Djabou, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras (Greece)
M. Rojo (Argentina)
Reza (Iran)


133 gol dicetak 97 pemain dari 32 tim/negara.

Sabtu, 28 Juni 2014

Brasiiiiiwwww!!!

Brazil 1 (3)           –             1 (2) Chile
David Luiz '18                    Alexis Sanchez '32

Yeaaayyy!!! I'm still sooooo happy coz Brazil just won the game against Chile! It was thrilling, emotional, so full of drama and screaming. Well I screamed a lot.

Ahahaha!
Ini bener-bener pertandingan penuuuh emosi dan derama!
Ya karena ini judul blognya aja diary, gue nulis laporan pertandingannya kaya nulis diary. Nggak papa lah ya.

So gue nonton bareng pertandingan ini sama sepupu gue dan adek gue di sebuah cafe di Citos. Gue sih nggak nyangka pertandingannya bakal menegangkan banget. Gue kira ya, baru babak 16 besar, paling-paling Brazil menang, walaupun tipis. Mungkin 1 - 0 atau 2 - 1 gitu kali ya.
Nah, dimulai tuh pertandingan Brazil lawan Chile jam 11 malem. Pas baru mau mulai pertandingan, gue berdiri, terus ikut nyanyiin lagu kebangsaan negara ke dua gue, Brazil. Loh? Katanya negara ke dua Italia? Pernah ngomong gitu nggak sih gue? Yah kewarganegaraan gue sebenernya Indonesia, Brazil, sama Italia. Ribet kan.

Eniwei, ternyata kok di cafe itu kebanyakan pada pendukung Chile? Brengsek!
Gue rasa orang-orang itu sebenernya bukan dukung Chile. Tapi emang pingin aja Brazil kalah. Mungkin karena mereka sebel, sirik sama Brazil. Biasa lah, tim-tim jago kan banyak yang benci. Kaya gue benci sama Jerman aja. Eh maaf loh... hehehe.
Atau mungkin orang-orang itu pada sebel kali ngeliat gue, sepupu gue, sama adek gue, udah cewek bertiga, duduk paling depan, teriak-teriak heboh banget. Yah intinya, kalo bukan anti-Brazil, kenapa gitu ada orang yang Brazil vs Chile bisa belainnya Chile??

Yah, intinya, gue sebel, bukan sama Chile. Chile sih harus diakui, mainnya bagus banget. Apalagi kipernya! Jago gilaaaak! Udah gitu Brazil emang mainnya malu-maluin. Padahal pada jago-jago, apalagi Neymar. Tapi sayangnya, mereka tuh nggak ada team work-nya SAMA SEKALI! Apalagi Neymar!
Dan yang jelek lagi dari Brazil, adalah mentalnya! Ya masa begitu adu penalty Julio Cesar udah langsung nangis, kaya udah bakal kalah aja. Kan yang didukungnya aja udah nangis, gimana perasaan gue yang dukung coba? Gimana??

Nah, sebelum ke situ, di awal pertandingan dulu nih. Gue sama sepupu gue dan adek gue loncat-loncat kegirangan, teriak-teriak kaya apaan tau, pas Brazil unggul 1 - 0. Ditulisnya sih di situ golnya David Luiz. Tapi kita yakin banget kok itu pemain Chile yang bunuh diri! Yah bodo amat, yang penting gol, baru menit ke-18. Teriak-teriak lah kita. Udah gitu pas kita teriak-teriak diliatin orang gitu. Belakangan baru tau ternyata tuh orang pendukung Chile. Pantes nyolot. Iya kita sempet nyolot-nyolotan gitu, tapi main mata doang, belom sampe adu mulut atau adu fisik.

Gue, adek dan sepupu gue itu baru nyadar kalo kebanyakan di cafe itu pendukung Chile, adalah pas di menit ke-32 Chile menyamakan kedudukan melalui gol Alexis Sanchez! Setan! Emang jago tuh bintang Chile yang satu itu! Pas terjadinya gol, tiba-tiba aja seisi cafe pada sorak-sorak sambil tepuk tangan. Damn it!

Nah, udah deh tuh, sepanjang sisa pertandingan, muka kita bertiga udah stres aja. Apalagi Brazil mainnya jelek banget, keserang melulu, ball possession juga banyakan Chile. Mana kipernya Chile jago abis! Terus sempet ada peluang yang bagus banget Chile hampir bikin gol. Gue, adek, dan sepupu gue udah teriak jejeritan! Untung kena tiang! Thanks tiang! Gile bener deh pokoknya! Nonton Brazil-Chile itu lebih nyeremin dari nonton Sadako.

Eeh tapi, tapi, tapiii... biarpun Chile lebih banyak menguasai bola, Brazil lebih banyak lho tembakan ke gawang. Yang on target juga lebih banyak. Lebih banyak dapet corner kick juga. Jadi, heh supporter Chile di cafe yang kemaren yang pada nyolot! Sori yeee!! Brazil tetap layak menang! Cih!

Semakin mendekati akhir pertandingan, supporter Brazil di stadion maupun di cafe-cafe maupun di rumah masing-masing, makin stres dan tegang, seolah Brazil bakal kalah. Sementara suporter Chile entah kenapa makin kepedean kaya bakal menang aja. Apalagi pas akhirnya babak ke dua kedudukan tetep 1 - 1, terus extra time juga tetep 1 - 1. Begitu akhirnya adu penalty, suporter Chile langsung pada tepuk tangan. Girang abis! Suporter Brazil pada langsung pesimis. Ya iya lah! Julio Cesar aja mewek! Gimane kite?

Terus di belakang gue ada suporter Chile rese tereak-tereak "Yee, Brazil kalah yeee!"
Ya gue nggak tau deh itu ngomong ke gue atau ke temennya, kali ada yang supporter Brazil juga. Soalnya di cafe itu emang ada beberapa juga yang gue liat pake baju Brazil. Tau lah. Pokoknya gue kan kesel. Tapi gue cuma diem aja, dalem hati udah niatin "Awas lo ya sampah! Sampe Brazil menang, gue mau ngadep belakang, terus ngeledekin lo balik! Mampus lo!"

Beneran gue nggak ada masalah sama Chile maupun supporternya di belahan dunia manapun, kecuali mereka yang nyolot-nyolot di cafe pada saat gue nobar itu!

Gue deg-degaaan banget pas mau adu penalty! Kalo sampe Brazil kalah gue malu nih! Pasti suporter Chile pada ngejek. Pokoknya awas aja! Kalo sampe Brazil kalah terus sampe mereka ngeledekin dikiiiit aja.... pasti langsung gue ajak ribut! Serius deh!

Yah, tapi Allah nggak ridho kali ya kalo ada rusuh-rusuh di bulan puasa. Makanya Brazil menang kan...

Nah, dimulailah adu penalty itu. Penendang pertama adalah David Luiz dari Brazil. Dan... gol saudara-saudara!!! Adek dan sepupu gue loncat-loncat kesenengan. Gue masih diem. Jangan seneng dulu. Takut malu.
Penendang pertama dari Chile adalah Mauricio Pinilla, dan tendangannya...ditepis!! Lupa sih ditepis atau emang kejedot mistar. Seinget gue ketepis deh. Dan adek dan sepupu gue pun kembali tereak-tereak kegirangan. Gue masih belom berani tereak. Cuman tepuk tangan doang, biar aman.
Penendang ke dua dari Brazil adalah Willian. Namun...tendangannya... tidak masuuuk!! Kami suporter Brazil kembali deg-degan. Untungnya, penendang ke dua dari Chile juga gagal. Padahal, siapa coba tebak yang nendang! Yep! One and only Alexis Sanchez pemirsa! Alexis Sanchez! Iya! Yang jagoan itu! Gagal pemirsa!
Untungnya tadi yang golin satu Alexis Sanchez. Jadi suporter Chile juga nggak bisa protes lah ya dia gagal penalty. Toh kalo bukan karena gol tunggalnya dia, Chile bahkan nggak bakalan dapet kesempatan penalty.

Pada tendangan ke tiga, baik Marcelo dari Brazil maupun Charles Aranguiz dari Chile sama-sama sukses mengeksekusi. Kedudukan 2 - 1 bagi Brazil, kesempatan menendang tinggal dua kali lagi untuk masing-masing tim. Suasana semakin menegangkan. Suporter Chile mulai pucet. Suporter Brazil mulai optimis. Lebih serunya lagi, di kesempatan ke empat, Hulk gagal mengeksekusi penalty bagi Brazil, sementara Marcelo Diaz sukses memasukkan bola ke dalam gawang! Oh nooo!! Chile menyamakan kedudukan! Suporter Chile di cafe itu mulai kembali pede, dan kembali berani nyolot. Namun penentuannya adalah di tendangan terakhir.

Penendang terakhir dari Brazil adalah Neymar. Beberapa orang di cafe itu, baik yang pendukung Brazil, Chile, Jokowi, maupun Prabowo, memperkirakan bintang seperti Neymar biasanya gagal mengeksekusi penalty. Kami sebagai suporter Brazil mulai pun khawatir.
Namun..., Neymar berhasil menggantikan kekhawatiran kami dengan sorakan kegirangan! Gol! Kedudukan 3 - 2 bagi Brazil!
Tapi Chile masih punya kesempatan satu kali tendangan lagi. Gonzalo Jara maju, menjadi pemain yang menentukan hasil akhir pertandingan. Dan kami pun menunggu, hampir tanpa suara... dan... tidak gooooll!!!!
Timnas Brazil dan para pendukungnya di seluruh dunia langsung meledak dalam kebahagiaan dan kelegaan yang luar biasa. Adek dan sepupu gue loncat-loncat dan teriak-teriak kesenengan. Sementara gue, hal pertama yang gue lakukan begitu ngeliat penalty terakhir Chile gagal adalah... apa yang udah gue rencanakan jauh sebelum pertandingan berakhir: langsung madep belakang, terus ngeliatin para suporter Chile yang nyolot-nyolot itu, sambil teriak kenceng banget "YEEEEEESSSSSS!!!!!"
Wuuiiihhh!!! Legaaaa bener rasanya!
Setelah itu baru gue loncat-loncat sambil pelukan sama adek dan sepupu gue. Gue masih aja nyela-nyela suporter Chile, sengaja mau bales bikin kesel, padahal besok udah puasa. Eh, tinggal beberapa jam lagi malah.

Yah gitu deh. Akhirnya gue ngerti, kenapa pas final Piala Dunia 2010 kemaren banyak yang pada rusuh padahal cuma nonton di cafe. Ya karena orang-orang nyolot kaya mereka itu lah, dan karena ada gue yang mau-maunya ngeladenin orang-orang nyolot. Hehehe... udah ah, capek nobar di cafe. Kapok. Bikin emosi, hampir berantem, mana suara gue abis pula! Beneran deh! Bayangin aja, udah bergadang biasa aja suara gue sering abis. Ini udah bergadang, sambil tereak-tereak pula. Udah gitu gue tuh tereak-tereaknya udah kaya apaan tau. Orang melahirkan juga kalah kali! Tau sendiri gue kalo udah tereak kaya apa suaranya. Yah bagus deh, semoga semua suporter Chile yang nonton di cafe itu sama gue masih trauma selama sebulan ke depan.