Tampilkan postingan dengan label belanda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belanda. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juli 2014

A Totally Different Game: Another Penalties for Holland

Argentina 0 (4)                  –             0 (2) Netherlands

Seolah ada permainan adu penalty berantai dalam Piala Dunia 2014 ini.

Semuanya diawali dari adu penalty yang terjadi di babak 16 besar, antara Yunani berhadapan dengan Costa Rica. Setelah bermain imbang 1 – 1 dalam 120 menit, pertandingan diakhiri dengan adu penalty. Saat itu, Costa Rica lah yang menjadi pemenangnya.

Namun, setelah pertandingan itu, Costa Rica harus kembali menghadapi adu penalty setelah bermain imbang tanpa gol saat menghadapi Belanda di babak perempat final. Kali itu, giliran Costa Rica yang kalah adu penalty dari Belanda.

Dan ternyata eh ternyata… Belanda pun membawa adu penalty berantai itu kepada akhir pertandingan mereka di semifinal melawan Argentina.

Sangat berkebalikan dengan pertandingan semifinal sebelumnya antara Brazil melawan Jerman, pertandingan antara Argentina dengan Belanda berlangsung dengan hambar tanpa satu gol pun. Entah karena cari aman, atau memang sudah lelah dengan pertandingan-pertandingan berat sebelumnya, Belanda dan Argentina tidak menunjukkan ketajaman masing-masing saat berhadapan di semifinal malam itu.

Belanda, tim yang membantai tim matador Spanyol, dan lolos sebagai juara grup B dengan nilai sempurna, 9, karena memenangkan tiga dari tiga pertandingan di babak penyisihan grup, yang sampai babak perempat final masih tercatat sebagai tim pencetak gol terbanyak dengan perolehan 12 gol, sudah gagal menambah perolehan gol mereka dalam dua pertandingan berturut-turut.

Sementara Argentina pun memiliki rekor yang tidak kalah canggih. Walaupun hanya mencatatkan kemenangan-kemenangan tipis, namun langkah Argentina menuju ke semifinal benar-benar mantap. Sama seperti Belanda, Argentina memenangkan semua pertandingan mereka di babak penyisihan grup dan meraih poin penuh 9. Kemudian Argentina melalui babak 16 besar dan perempat final dengan kemenangan mutlak, tanpa adu penalty. Lionel Messi, pemain termahal dunia pada saat ini, tidak pernah bisa dibendung barisan pertahanan sekokoh apapun.

Namun, nyatanya, kedua tim kuat itu belum mampu saling menerobos pertahanan.

Sekali lagi, mungkin karena sama-sama main aman. Mungkin juga karena sama-sama lelah. Tapi ada satu kemungkinan lagi. Kemungkinan yang lucu dan tidak masuk akal, yaitu... Belanda harus menyerahkan tongkat estafet adu penalty berantai kepada Argentina.

Belanda mendapat kesempatan untuk menendang lebih dulu. Dan, baru tendangan pertama saja, penendang Belanda, Ron Vlaar, sudah gagal mencetak angka. Sementara Lionel Messi, yang menjadi penendang pertama dari kubu Argentina, sukses melesakkan bola ke gawang.... Jasper Chillessen! Oops....kayaknya...ada yang lupa ganti kiper niiiihh... *lirik Van Gaalau

Kedudukan 1 - 0 untuk keunggulan sementara Argentina.

Penendang ke dua Belanda, Arjen Robben, dan penendang ke dua Argentina, Ezequiel Garay, sama-sama berhasil mencetak gol. Kedudukan sementara 2 - 1 untuk keunggulan Argentina.

Penendang ke tiga dari Belanda adalah Wesley Sneijder. Apakah seorang Wesley Sneijder bisa mencetak gol ke gawang Sergio Romero?? Tidak, saudara-saudara!! Sneijder gagal! Sementara Sergio Aguero berhasil mencetak gol!

Sudah dua orang penendang Belanda yang gagal mencetak angka, sementara penendang Argentina belum ada satupun yang meleset. Kedudukan sementara 3 - 1 untuk keunggulan Argentina, dan tinggal dua kali lagi kesempatan menendang.

Penendang ke empat Belanda, Dirk Kuyt, memang berhasil mencetak gol. Namun, dengan berhasilnya Rodriguez mencetak angka ke empat bagi Argentina, selesai lah sudah adu penalty itu!

Dan, seperti aturan main sebelumnya, tim pembawa tongkat estafet lah yang kalah adu penalty.


Argentina melenggang ke final untuk berhadapan dengan Jerman. Final yang sangatlah klasik.

Pencetak gol terbanyak sementara:
6
James Rodríguez (Colombia)

5
Thomas Muller (Germany)

4
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)
André Schürrle (Germany)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic, Ivan Perisic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho, Wilfried Bony (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew, Asamoah Gyan (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)
Bryan Ruiz (Costa Rica)
Abdelmoumene Djabou (Algeria)
Matt Hummels, Miroslav Klose, T. Kroos (Germany)
David Luiz, Oscar (Brazil)

1
Fred, Fernandinho, Thiago Silva (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez, Giovani Dos Santos (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer, Wesley Sneijder, Huntelaar (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Mario Gotze, Mesut Özil, Sami Khedira (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones, Julian Green (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen, Kevin De Brunye, Romelu Lukaku (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko, Paul Pogba (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras, Sokratis Papastathopoulos (Greece)
Marcos Rojo, Angel Di Maria, Gonzalo Higuain (Argentina)
Reza (Iran)

159 gol dicetak 112 pemain dari 32 tim/negara.
Total goals (including own goals): 166 goals
135 goals group stage
18 goals top 16
5 goals quarter final

8 goals semi final

Sabtu, 05 Juli 2014

Quarter Final, 4th Match: Netherlands vs Costa Rica

Netherlands 0 (4)              –             0 (3) Costa Rica

Setelah tiga pertandingan perempat final lainnya yang terkesan hambar dan tanpa drama, akhirnya drama yang ditunggu-tunggu terjadi pada pertandingan terakhir di babak perempat final, yaitu Belanda melawan Costa Rica.

Setelah Italy dan Inggris, kini giliran Belanda yang harus menghadapi kokohnya dinding pertahanan Costa Rica, yang dijaga ketat oleh Cristian Gamboa, Johnny Acosta, Giancarlo Gonzales, Michael Umaña, dan salah satu penjaga gawang terbaik Piala Dunia 2014, Keylor Navas.

Selama 120 menit Arjen Robben dkk terus berusaha menggempur pertahanan Costa Rica. Namun segala usaha yang mereka kerahkan terus menemukan kebuntuan. Beberapa kali Costa Rica mematahkan serangan-serangan Belanda. Keylor Navas pun berkali-kali menyelamatkan gawang dari tendangan-tendangan maut Sneijder, Robben, Van Persie, dan para pemain Belanda lainnya yang selama ini sudah mencetak 12 gol bagi Belanda. Bahkan ketika Keylor Navas dkk lengah, mistar gawang pun ikut serta mementahkan tendangan Wesley Sneijder di menit-menit terakhir.

Setelah bermain imbang tanpa gol selama 2x45 menit, dilanjutkan dengan 2x15 menit babak perpanjangan waktu, akhirnya pertandingan antara Belanda melawan Costa Rica, menjadi pertandingan pertama dan satu-satunya di babak perempat final, yang harus berakhir dengan drama adu penalty.

Setelah berhasil menang adu penalty melawan Yunani di babak 16 besar, sekali lagi Costa Rica harus menghadapi adu penalty. Hanya beberapa menit sebelum babak ke dua perpanjangan waktu berakhir, Luis Van Gaal dengan cermat mengganti penjaga gawang Belanda, Jasper Chilesen, dengan Tim Krull, yang tampaknya spesialis adu penalty.

Dan dimulailah drama adu penalty itu.

Costa Rica mendapat kesempatan untuk mengambil tendangan pertama.
Penendang pertama bagi Costa Rica adalah Celso Borges, yang sukses mencetak gol ke gawang Tim Krull. Kedudukan 1 - 0 bagi Costa Rica.
Namun Robin Van Persie yang menjadi penendang pertama bagi Belanda pun sukses memasukkan bola ke dalam gawang. Kedudukan sementara menjadi 1 - 1.
Situasi menjadi menegangkan bagi Costa Rica saat Tim Krull berhasil menepis tendangan kapten Bryan Ruiz pada tendangan ke dua, sementara Arjen Robben sukses menceploskan bola ke gawang Keylor Navas. Kedudukan 2 - 1 untuk keunggulan Belanda.
Tendangan ke tiga berhasil dieksekusi dengan baik oleh Giancarlo Gonzales, lalu oleh Wesley Sneijder. Kedudukan 3 - 2 untuk keunggulan Belanda.
Lalu tendangan ke empat juga berhasil dieksekusi Cristian Bolaños untuk Costa Rica dan Dirk Kuyt untuk Belanda. Kedudukan sudah 4 - 3 untuk keunggulan Belanda. Sementara kesempatan menendang tinggal satu kali lagi.
Maka, begitu Michael Umaña gagal memasukkan bola pada kesempatan menendang terakhir bagi Costa Rica, selesailah sudah pertandingan ini!

Para pemain cadangan dan tim official dari Belanda menyerbu ke tengah lapangan, sementara puluhan ribu fans Belanda yang menonton di stadion juga merayakan lolosnya Belanda ke semifinal.


Costa Rica sudah menampilkan permainan terbaik mereka, menunjukkan kekuatan pertahanan yang luar biasa selama lima pertandingan yang telah mereka lalui. Mereka kalah terhormat melalui adu penalty, oleh salah satu tim terkuat di Piala Dunia 2014 ini.

Dengan tersingkiranya Costa Rica dari Piala Dunia, Costa Rica memastikan diri sebagai tim dengan jumlah kebobolan terkecil sepanjang Piala Dunia 2014, yaitu hanya kebobolan 2 gol. Barisan pertahanan Costa Rica telah berhasil mempertahankan gawang mereka dari serangan-serangan tim-tim besar seperti Italia, Inggris, dan Belanda. Hanya Yunani dan Uruguay yang mampu menjebol gawang Keylor Navas selama Piala Dunia 2014, dengan masing-masing hanya satu gol.

Sementara Belanda, meski tidak menambah perolehan golnya di babak perempat final ini, tetap menjadi tim pencetak gol terbanyak sementara dengan 12 gol. Hanya saja, rekor mereka harus disejajari oleh Colombia yang mencetak satu gol ke gawang Brazil di pertandingan terakhir mereka.

Tim pencetak gol terbanyak sampai Babak Perempat Final:
1. Netherlands, Colombia (12 goals)
2. Brazil, Germany, France (10 goals)
3. Argentina (8 goals)
4. Switzerland, Algeria (7 goals)
5. Croatia, Belgium, Chile (6 goals)
6. Costa Rica, Mexico, USA (5 goals)
7. Uruguay, Portugal, Spain, Ivory Coast, Ghana, Bosnia-Herzegovina (4 goals)
8. Nigeria, Ecuador, Australia, South Korea, Greece (3 goals)
9. Italy, Russia, England (2 goals)
10. Cameroon, Japan, Honduras, Iran (1 goal)

Tim paling banyak kebobolan sampai Babak Perempat Final:
1. Australia, Cameroon (9)
2. Honduras (8)
3. Spain, Portugal, Switzerland, Algeria (7)
4. Japan, South Korea, Ghana, Croatia, Uruguay, USA (6)
5. Greece, Nigeria (5)
6. Iran, England, Bosnia-Herzegovina, Ivory Coast, Netherlands, Chile, Brazil, Colombia (4)
7. Russia, Italy, Ecuador, Argentina, Germany, Mexico, Belgium, France (3)
8. Costa Rica (2)

Tim dengan aggregate terbesar sampai Babak Perempat Final:
1. Colombia, Netherlands (8)
2. France, Germany (7)
3. Brazil (6)
4. Argentina (5)
5. Costa Rica, Belgium (3)
6. Chile, Mexico (2)
7. Switzerland, Algeria, Ecuador, Croatia, Ivory Coast, Bosnia-Herzegovina (0)
8. USA, Italy, Russia (-1)
9. Uruguay, Greece, Nigeria, Ghana, England (-2)
10. Portugal, Spain, South Korea, Iran (-3)
11. Japan (-5)
12. Australia (-6)
13. Honduras (-7)
14. Cameroon (-8)

Tim dengan rata-rata gol terbanyak per pertandingan sampai Babak Perempat Final:
1. Netherlands, Colombia (2.4 goals/match)
2. Brazil, Germany, France, Croatia (2 goals/match)
3. Switzerland, Algeria (1.75 goals/match)
4. Argentina (1.6 goals/match)
5. Chile (1.5 goals/match)
6. Portugal, Spain, Ivory Coast, Ghana, Bosnia-Herzegovina (1.33 goals/match)
7. Mexico, USA (1.25 goals/match)
8. Belgium (1.2 goals/match)
9. Uruguay, Ecuador, Australia, South Korea, Costa Rica (1 goal/match)
10. Nigeria, Greece (0.75 goals/match)
11. Italy, Russia, England (0.67 goals/match)
12. Cameroon, Japan, Honduras, Iran (0.33 goals/match)

Tim dengan rata-rata kebobolan terbanyak per pertandingan sampai Babak Perempat Final:
1. Cameroon, Australia (3/match)
2. Honduras (2.67/match)
3. Spain, Portugal (2.33/match)
4. Japan, South Korea, Ghana, Croatia (2/match)
5. Algeria, Switzerland (1.75/match)
6. USA, Uruguay (1.5/match)
7. Iran, England, Bosnia-Herzegovina, Ivory Coast (1.3/match)
8. Nigeria, Greece (1.25/match)
9. Russia, Italy, Ecuador, Chile (1/match)
10. Brazil, Netherlands, Colombia (0.8/match)
11. Mexico (0.75/match)
12. France, Belgium, Germany, Argentina (0.6/match)
13. Costa Rica (0.4/match)

Pencetak gol terbanyak sementara:
6
James Rodríguez (Colombia)

4
Thomas Muller (Germany)
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic, Ivan Perisic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho, Wilfried Bony (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew, Asamoah Gyan (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)
Bryan Ruiz (Costa Rica)
Abdelmoumene Djabou (Algeria)
Matt Hummels (Germany)
David Luiz (Brazil)

1
Fred, Fernandinho, Thiago Silva, Oscar (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez, Giovani Dos Santos (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer, Wesley Sneijder, Huntelaar (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Mario Gotze, Mesut Özil, Miroslav Klose, André Schürrle (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones, Julian Green (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen, Kevin De Brunye, Romelu Lukaku (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko, Paul Pogba (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras, Sokratis Papastathopoulos (Greece)
Marcos Rojo, Angel Di Maria, Gonzalo Higuain (Argentina)
Reza (Iran)

151 gol dicetak 110 pemain dari 32 tim/negara.

Kamis, 03 Juli 2014

Tim-tim Perempat Final Piala Dunia 2014

Tidak terasa, Piala Dunia sudah memasuki babak perempat final. Dari 32 tim peserta Piala Dunia, sudah tersaring menjadi tinggal 8 tim. Semuanya adalah juara dari masing-masing grup di babak penyisihan grup.


Kedelapan tim yang lolos ke perempat final merupakan tim-tim tangguh yang mayoritas langganan Piala Dunia. Untuk menuju ke perempat final, mereka pun telah melalui pertandingan-pertandingan yang sangat berat dengan tim-tim yang juga luar biasa gigih.

Dari kedelapan peserta perempat final, mungkin banyak yang menjagokan Jerman, Belanda, Prancis, Argentina, dan Brazil, terutama karena nama besar dan bintang-bintang lapangan yang bertaburan di sana. Tapi apakah statistik mengatakan bahwa Jerman, Belanda, Prancis, Argentina, dan Brazil lebih baik daripada Colombia, Belgia, dan Costa Rica?

Mari kita review statistik sejak babak penyisihan grup sampai babak perdelapan final atau babak 16 besar.

Pertama, bagaimanakah sepak terjang mereka selama babak penyisihan grup dan 16 besar?

1. Colombia:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 2 - 0 di 16 besar, tanpa extra time, tanpa kontroversi, tanpa own goal dari lawan

2. Argentina:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 1 - 0 di 16 besar, dengan extra time, tanpa kontroversi

3. Belgium:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 2 - 1 di 16 besar, dengan extra time, tanpa kontroversi

4. Netherlands:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 2 - 1 di 16 besar, tanpa extra time, dengan hadiah penalty kontroversi

5. France:
- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang 2 - 0 di 16 besar, tanpa extra time, tanpa kontroversi, dengan own goal dari lawan

6. Germany

- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang 2 - 1 di 16 besar, dengan extra time, tanpa kontroversi

7. Brazil:
- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang adu penalty di 16 besar, tanpa kontroversi

8. Costa Rica:
- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang adu penalty di 16 besar, tanpa kontroversi

Kalau dilihat dari sepak terjang kedelapan tim, ternyata sejauh ini Colombia yang rekornya cukup mengesankan. Melibas lawan-lawannya di babak penyisihan grup, Colombia lolos sebagai juara grup C dengan mengantongi poin penuh. Lalu di babak 16 besar, Colombia bisa dibilang sebagai tim yang kemenangannya paling mutlak. Kenapa? Karena, dari delapan tim, hanya ada tiga tim yang memenangkan pertandingan mereka di babak 16 besar tanpa extra time dan adu penalty, yaitu Colombia, Belanda, dan Prancis. Tapi gol ke dua Prancis adalah bunuh diri pemain lawan, sementara Belanda lebih parah lagi. Gol ke dua Belanda adalah hasil dari penalty kontroversial yang dihadiahkan wasit karena Arjen Robben melakukan diving di kotak penalty.
Brazil yang sangat diunggulkan, justru hanya bisa menang melalui adu penalty. Begitu juga dengan Costa Rica. Lalu Jerman dan Argentina, yang diperkirakan akan bisa melalui Algeria dan Switzerland dengan mudah, ternyata perlu extra time untuk memenangkan pertandingan. Begitu juga dengan Belgia.

Sementara itu, kalau dilihat dari babak penyisihan grup, 50% dari tim yang lolos ke perempat final, meraih poin penuh di babak penyisihan grup. 50% itu, selain Colombia, adalah Argentina, Belanda, dan Belgia. Jadi justru tim seperti Belgia berhasil meraih poin penuh di penyisihan grup. Justru Jerman, Brazil, dan Prancis tidak berhasil meraih poin penuh. Brazil sempat ditahan imbang oleh Mexico, Jerman oleh USA, dan Prancis oleh Ecuador.

Itu kalau dari sepak terjang mereka dari pertandingan ke pertandingan. Sekarang mari bicara soal angka.
Pertama, siapakah tim pencetak gol terbanyak sementara ini? Dan siapakah yang paling sedikit kebobolan?

Tim pencetak gol terbanyak:
1. Netherlands (12 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
2. Colombia (11 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
3. France (10 goals)
4. Germany (9 goals)
5. Brazil (8 goals)
6. Argentina(7 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
7. Belgium (6 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
8. Costa Rica (5 goals)

Tim paling sedikit kebobolan:
1. France, Colombia, Costa Rica, Belgium (2)
2. Argentina, Brazil, Germany (3)
3. Netherlands (4)

Tim dengan aggregate terbesar:
1. Colombia (9)
2. Netherlands, France (8)
3. Germany (6)
4. Brazil (5)
5. Argentina, Belgium (4)
6. Costa Rica (3)

Kalau dilihat secara angka, ternyata kedelapan peserta perempat final memiliki perolehan gol yang masing-masing berbeda satu gol. Dari 4 tim yang lolos dari penyisihan grup dengan poin penuh, ternyata hanya Belanda dan Colombia yang berada di posisi teratas dalam daftar pencetak gol terbanyak. Belanda mencetak 12 gol, dan Colombia hanya kurang 1 gol dibandingkan Belanda. Sementara dua lainnya, Argentina dan Belgia, justru merupakan 4 terbawah.

Dua tim yang tidak berhasil meraih poin penuh di penyisihan grup, namun tampil memukau mulai dari penyisihan grup sampai babak 16 besar, adalah Jerman dan Prancis. Jerman membukukan banyak gol karena melibas salah satu tim besar dunia, Portugal. Sementara 5 dari 10 gol yang sudah dicetak Prancis berasal dari pembantaian mereka terhadap Switzerland.

Yang menarik adalah, Belanda, tim yang paling banyak mencetak gol, ternyata juga merupakan yang paling banyak kebobolan di antara ketujuh tim lainnya. Dari semua tim yang berhasil masuk ke perempat final, Belanda adalah satu-satunya tim yang sudah kebobolan lebih dari 3 gol.
Sementara Costa Rica, tim yang paling sedikit mencetak gol dibandingkan ketujuh perempat finalis lain, yaitu hanya 5 gol, ternyata juga salah satu tim yang paling sedikit kebobolan. Costa Rica baru kebobolan 2 gol.
Begitu juga dengan Belgia yang hanya mencetak satu gol lebih banyak dari Costa Rica, mereka pun baru kebobolan 2 gol.
Yang paling hebat, lagi-lagi adalah Colombia. Karena, dengan perolehan 11 gol yang menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak setelah Belanda, Colombia juga termasuk yang paling sedikit kebobolan, karena, seperti Belgia dan Costa Rica, mereka pun baru kebobolan 2 gol.
Tim lainnya yang juga hanya kebobolan 2 gol adalah Prancis.
Selebihnya, Brazil, Argentina, dan Jerman, masing-masing sudah kebobolan 3 gol. Masih di bawah Belanda.

Dengan menjadi salah satu pencetak gol terbanyak dengan kebobolan paling sedikit, Colombia menjadi tim nomor 1 dalam hal selisih gol. Selisih golnya adalah 9, mengalahkan Belanda dan Prancis yang memiliki selisih gol 8. Selisih terkecil antara jumlah gol dan kebobolan adalah Costa Rica, yaitu selisih 3 gol.

Jadi, dari catatan rekor dan statistik, Colombia adalah tim terkuat di antara para peserta yang masuk ke perempat final. Ditambah lagi, pencetak gol terbanyak sementara ini masih dipegang James Rodriguez dari Colombia, dengan perolehan 5 gol.

Tapi, catatan rekor mereka tidak bisa menjadi pegangan mutlak. Ingat bahwa masing-masing tim menghadapi lawan dengan level kekuatan yang berbeda-beda.

Colombia memang memenangi keempat pertandingan mereka dengan mulus. Tapi Tim-tim yang sudah dihadapi selama ini bisa dibilang, tim-tim penggembira. Walaupun Uruguay tergolong tim yang terkenal tangguh, namun di Puala Dunia kali ini mereka tidak tampil sebaik yang diharapkan. Apalagi tanpa Luis Suarez yang diskors 4 bulan setelah aksi gilanya menggigit Chiellini.

Minggu, 29 Juni 2014

Top 16, 3rd Match: Netherlands vs Mexico

Netherlands 2     –             1 Mexico
Wesley Sneijder ’88          Giovani Dos Santos ‘48

Klas Jan Huntelaar ‘90+4 (p)

Babak 16 besar kembali menyajikan pertandingan yang panas dan menegangkan. Kali ini Belanda sebagai juara grup B yang berhadapan dengan Mexico sebagai runners-up grup A. Pertandingan yang dilangsungkan di Fortaleza ini sempat dihentikan untuk cooling break pada pertengahan babak pertama dan pertengahan babak ke dua, saking panasnya cuaca di stadion saat itu. Pada babak pertama, Belanda terlihat seolah kehilangan grip. Mexico tampak lebih banyak menguasai bola dan membuat para pemain Belanda kewalahan. Namun tidak tercipta satu gol pun di babak pertama.
Hampir sepanjang babak ke dua, Mexico dan para suporternya optimis akan memenangkan pertandingan. Pasalnya, babak ke dua baru saja berjalan 3 menit, Giovani Dos Santos sudah mencetak gol yang membawa Mexico unggul 1 - 0. Keunggulan itu dinikmati Mexico selama hampir seluruh babak ke dua. Walaupun terjadi begitu banyaknya peluang, Belanda terus-menerus gagal mengeksekusi menjadi sebuah gol. Semakin mendekati akhir pertandingan, supporter Belanda semakin pesimis. Namun, tragis bagi Mexico, hanya beberapa menit menjelang berakhirnya pertandingan, terjadi kemelut di depan gawang, yang berakhir dengan gol yang dicetak Wesley Sneijder di menit ke-88. Gol itu sendiri sangat cantik. Saat terjadi kemelut di depan gawang, Sneijder berlari menyambut bola panas, dan melepaskan tembakan mendatar yang sangat tajam membobol gawang Ochoa.
Gol Sneijder memberikan semangat baru bagi Belanda dan para supporternya. Pertandingan kembali memanas. Baik Mexico dan Belanda menjadi lebih ngotot, sekaligus lebih berhati-hati. Sayangnya, pertandingan yang apik ini harus berakhir dengan kontroversial. Pada injury time babak ke dua menit ke-4, Arjen Robben sengaja menjatuhkan diri di kotak penalty, dan wasit memberikan keputusan yang sangat menyedihkan itu: hadiah penalty bagi Belanda. Penalty itu sukses dieksekusi oleh Klas Jan Huntelaar. Satu menit kemudian wasit meniup peluit panjang yang memupuskan harapan Mexico. Belanda pun melaju ke babak perempat final dengan caranya yang sangat memalukan.

Senin, 23 Juni 2014

Hasil Akhir di Grup B

Netherlands 2                    –                            0 Chile
Fer ‘77
Depay ‘90+3

Walaupun sudah dipastikan lolos, baik Belanda maupun Chile masih harus bertarung mati-matian untuk menghindari posisi sebagai runners-up grup B. Karena, setelah lolos dari grup ini, juara grup akan berhadapan dengan runners-up grup A, dan runners-up grup akan berhadapan dengan juara grup A. Walaupun hasil akhir grup A masih belum diketahui, baik Chile maupun Belanda mungkin sudah mengasumsikan, siapapun yang menjadi juara grup A, akan lebih sulit dihadapi daripada runners-up-nya.
Belanda memang sangat diunggulkan dalam pertandingan ini. Tapi ternyata Chile tidak bisa dikalahkan begitu saja. Walaupun sempat terjadi beberapa peluang, sepanjang babak pertama, kedua tim bermain imbang tanpa gol. Namun di babak ke dua, akhirnya Leroy Fer berhasil memecahkan kebuntuan Belanda di menit ke-77. Setelah ketinggalan satu gol, Chile masih berusaha untuk menyamakan kedudukan. Namun, sampai penghujung pertandingan Alexis Sanchez dkk belum juga berhasil membobol gawang Jasper Cillesen. Justru di menit-menit terakhir, Belanda memastikan kemenangannya menjadi 2 - 0 lewat gol Memphis Depay.

Spain 3                                –                            0 Australia
Villa ‘36
Torres ‘69
Mata ‘82

Pertandingan ini bisa dibilang adalah pertandingan tanpa beban. Baik Spanyol maupun Australia sudah dipastikan tidak lolos ke babak 16 besar. Setelah dibantai 5 - 1 di pertandingan pertama melawan Belanda dan tidak berhasil mencetak gol saat dibabat Chile 2 - 0, akhirnya Spanyol berhasil mendapatkan kemenangan mereka yang pertama dan satu-satunya atas Australia.


Tabel akhir grup B dengan Belanda sebagai juara grup dan Chile sebagai runners-up grup B

Jumat, 13 Juni 2014

Babak Penyisihan, Group B: Spain - Netherlands, Chile - Australia

sPAIN 1                –             5 Netherlands
Alonso ’27 (p)                    Van Persie ’44, ‘72
                                             Robben ’53, ‘80
                                             De Virjk ‘64

Yah gitu deh, pokoknya Spanyol dibombardir abis-abisan, pertahanannya diobrak-abrik sampe jebol, ngga usah banyak tanya! Tuh udah ada kan nama-nama dan menit-menitnya di atas! à langsung nggak professional gitu, emang susah deh kalo mau sok-sok jadi reporter bola tapi subyektif… x-p
Oke, oke… saya bahas juga deh terpaksa.
Babak pertama sebenarnya berjalan cukup imbang. Baik Belanda maupun Spanyol bermain dengan cukup ngotot. Setelah Alonso sukses mengeksekusi penalty di menit ke-27, menit ke-44 Van Persie berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1 – 1. Skor itu bertahan sampai turun minum.
Namun, di babak ke-2, Belanda benar-benar ngamuk. Entah apa yang terjadi di ruang ganti selama waktu istirahat 15 menit, tapi semangat anak-anak asuhan Luis Van Gaal jelas kebakaran di babak ke-2 ini. Diawali dengan gol Arjen Robben yang luaaar biasa cantik di menit ke-53, Belanda memulai pembantaiannya di babak ke-2. Gol cantik Robben disusul gol De Virjk di menit ke-64. Kemudian Van Persie mencetak gol ke duanya di menit ke-72. Pembantaian tersebut diakhiri dengan gol ke dua Robben pada menit ke-80. Iker Casillas tampak pontang-panting berusaha menyelamatkan gawang, berubah jadi Iker Casillan (baca: Iker Kasian).
Yang jelas Belanda bukan cuma sukses membalas kegagalan mereka meraih gelar juara, akibat kekalahan dari Spanyol, di final Piala Dunia empat tahun lalu, tapi juga telah mempermalukan sang juara bertahan. Hasil yang fantastis ini tentu mengejutkan banyak orang. Sebelum pertandingan, banyak penggemar bola yang sangat menjagokan Spanyol, salah satunya saya.
Pembantaian ini jelas meruntuhkan mental tim asuhan Vincente Del Bosque tersebut beserta pendukungnya. Tapi perjalanan belum berakhir. Masih ada dua pertandingan untuk masing-masing tim. Spanyol masih punya kesempatan besar untuk lolos dari penyisihan grup.


Chile 3                  –             1 Australia
Alexis Sanchez ’12                           Cahill ‘35
Jorge Valdivia ‘14
Jean Beaousoujour '90+2

Pertandingan lainnya adalah antara Chile dengan Australia. Chile yang sudah menggebrak dari menit-menit awal, langsung sukses membobol gawang Australia pada menit ke-12 melalui gol bintang andalan mereka, Alexis Sanchez. Tak lama berselang, Chile kembali menambah keunggulan melalui gol Valdivia di menit ke-14.
Australia berhasil memperkecil ketinggalan mereka berkat sundulan Cahill di menit ke- 35. Setelah itu tidak ada lagi gol yang tercipta sampai pada injury time menit ke-2 babak ke-2, Jean Beausoujour menambah keunggulan Chile menjadi 3 - 1.




Pencetak gol terbanyak sementara:
2             Neymar (Brazil), Van Persie, Robben (Netherlands)
1             Oscar (Brazil), Peralta (Mexico), Xabi Alonso (Spain), De Virjk (Netherlands), Alexis Sanchez , Valdivia, Beausoujour (Chile), Tim Cahill (Australia)