Jumat, 04 Juli 2014

Quarter Final, 2nd Match: Brazil vs Colombia

Brazil 2                 –             1 Colombia
Thiago Silva ‘7                   James Rodriguez ‘80 (p)

David Luiz ‘69

Di pertandingan ke dua di babak perempat final, Brazil berhasil mengalahkan Colombia dengan skor 2 - 1.
Brazil yang tampil meragukan, terutama di pertandingan sebelumnya, saat mereka menghadapi Chile di babak 16 besar, tampil sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Sedikit demi sedikit mereka mulai memperlihatkan jogo bonito, yang mengingatkan kembali mengapa mereka mendapat julukan tim samba.

Colombia sendiri bermain tidak kalah cantiknya. Baru menit ke-7, Brazil sudah unggul 1 - 0 lewat gol Thiago Silva. Namun, walaupun gol sudah terjadi di menit-menit awal pertandingan, sisa babak pertama jauh dari membosankan. Baik Brazil maupun Colombia menampilkan permainan dalam tempo cepat yang cantik dan sangat enak dilihat. Keduanya saling menyerang dengan gaya permainan khas amerika latin. Di babak pertama sempat terjadi banyak peluang baik bagi Brazil maupun Colombia. Namun tidak satupun peluang itu berhasil dimanfaatkan, semenjak gol Thiago Silva itu tadi.

Di awal babak ke dua, permainan sempat agak lamban dan membosankan. Namun, semakin mendekati pertengahan babak ke dua, tempo permainan semakin cepat. Sayang sekali, Thiago Silva harus menerima kartu kuning di menit ke-64 karena... karena wasitnya sensi aja sih. Sialan!

Sialnya, kartu kuning itu merupakan kartu kuning ke dua yang diterima Thiago Silva selama dua pertandingan terakhir, sehingga Thiago Silva terpaksa absen saat Brazil menghadapi Jerman di semi final nanti. Gawaaatt!!

Di menit ke-69, Brazil memperbesar keunggulan menjadi 2 - 0 setelah David Luiz mencetak gol yang saaangat cantik melalui tendangan bebas. Fantastis! Luar biasa!

Yee... giliran Brazil aja yang mainnya bagus, muji-mujinya agak lebay. Ya maap...namanya juga warga negara Indonesia keturunan Brazil-Italia (ngarep!). Tapi serius loh! Jujur, agak kaget liat permainan Brazil hari ini. Kok bagus dan tidak mengecewakan seperti sebelumnya? Pas lawan Chile kemaren jelek banget lho! Sampe emosi dan beneran marah-marah, bahkan ngamuk-ngamuk nontonnya. Serius sampe ngamuk! Nggak lebay ini!

Sayangnyaaaa pemirsa... di menit ke-80, si kiper Julio Cesar ngelanggar James Rodriguez deh! Di kotak penalty pula! Nggak tau gimana itu, mungkin maksudnya mau nangkep bola, panik juga karena situasinya emang udah gawat banget, eh bukannya bola yang ditangkep, malah kaki yang diselengkat. Kartu kuning deeeh!

Selain kartu kuning yang diberikan pada Julio Cesar, wasit memberikan tendangan penalty bagi Colombia. James Rodriguez, top skorer sementara Piala Dunia 2014, berhasil mengeksekusi penalty itu dengan baik.

Menjelang akhir pertandingan, Neymar ditabrak dari belakang oleh pemain brengsek Colombia, Zunga. Dan kelihatannya kok mengkhawatirkan ya? Karena tampaknya lutut si pemain brengsek menabrak tulang belakang Neymar. Kalau benar tulang belakangnya yang kena, terus si Neymar sampe harus ditandu keluar gitu...bisa parah banget itu! Tulang belakang men! Tapi dasar wasitnya buta, dia nggak ngeliat kali ya pas Neymar ditabrak, si pemain brengsek nggak dikartumerah. Dikartukuning aja nggak. Brazil dapet free kick aja nggak. Yah, semoga aja deh setelah pertandingan ini itu pemain diskors atau apa gitu. Kasian banget Neymar! Di pertandingan berikutnya, lawan Jerman, Thiago Silva udah nggak bisa main. Masa Neymar harus absen juga!?

Masih inget cerita Jalidin? Itu loh, anak yang suka bohong, teriak-teriak ada harimau padahal nggak ada, terus pas ada harimau beneran, dia nggak dipercaya orang, dan akhirnya mati diterkam harimau. Yah, nggak yakin juga sih pada tau. Cuma dulu pas kecil nyokap cerita itu berkali-kali.
Nah! Neymar sih, suka pura-pura jatoh! Kesenggol dikit jatoh, kesenggol dikit drama, kesenggol dikit nangis-nangis, kesenggol dikit kaing-kaing. Sekalinya kesenggolnya emang beneran parah, wasitnya liat dari jauh udah nggak percaya gitu.
Pesan moral: jangan suka berbohong ya, adik-adik yang manis!

Akhir-akhir pertandingan semakin menegangkan sih. Karena pemain Brazil maupun Colombia udah sama-sama emosi. Tapi akhirnya Brazil tetap mempertahankan skor 2 - 1 sampai akhir pertandingan. Colombia pun harus tersingkir, setelah penampilan yang begitu meyakinkan sejak awal babak penyisihan grup.

Walaupun Colombia tersingkir, penalty yang dieksekusi James Rodriguez semakin memantapkan posisinya sebagai pencetak gol terbanyak sementara dengan perolehan 6 gol. Pesaing-pesaing di bawah James Rodriguez adalah Lionel Messi dari Argentina, Thomas Muller dari Jerman, dan Neymar dari Brazil. Sayangnya, perjalanan Rodriguez harus terhenti di sini karena Colombia sudah tersingkir. Sementara Thomas Muller, Messi, dan Neymar masih punya kesempatan untuk memperbanyak perolehan gol mereka.

Quarter Final, 1st Match: Germany vs France

Germany 1          –             0 France

Mats Hummels ‘13

Banyak yang menyayangkan pertemuan Jerman dan Prancis di perempat final yang dianggap terlalu dini. Tapi bagaimana lagi? Di pertandingan lainnya ada Argentina, Brazil, dan Belanda yang juga sama-sama tim besar dunia. Dua dari tim raksasa yang masuk ke perempat final, mau tidak mau, harus bertemu.

Namun, tidak seperti yang diperkirakan, pertandingan ini berjalan tanpa greget. Garing. Basi.
Setelah gol Mats Hummels di menit ke-13, tidak ada lagi gol atau kejadian-kejadian istimewa apapun.

Tempo permainan lamban. Baik Jerman maupun Prancis tidak menunjukkan penampilan seperti yang diharapkan orang-orang. Yah, minimal gue, bokap, adek, dan sepupu yang kebetulan nonton bareng. Kami sependapat bahwa pertandingan ini ternyata mbosenin banget. Padahal, Jerman bermain sangat agresif dan impresif saat melawan Algeria, juga saat membantai Portugal dan menumbangkan USA. Sementara Prancis pun bermain tidak kalah ganasnya saat menghadapi Switzerland, Honduras, dan Nigeria. Ya wajar kan kalau kami berharap akan menyaksikan pertandingan yang luar biasa enak ditonton, dahsyat, dramatis, dan banjir serangan?

Yah, bagaimanapun, selamat bagi Jerman, yang berhasil lolos ke semifinal. Langkah Prancis harus terhenti sampai di sini. Pasti mengecewakan bagi fans Prancis. Apalagi, di sekitar gue ternyata banyak yang menjagokan Prancis sekaligus Jerman, dan kecewa sekali mereka harus bertemu secepat ini. Gue sih bersyukur Brazil dan Argentina baru bisa ketemu di final. Tapi kalau salah satunya sampai nggak masuk final, pasti gue kecewa banget. Go Brazil! Go Argentina!!

Kamis, 03 Juli 2014

Tim-tim Perempat Final Piala Dunia 2014

Tidak terasa, Piala Dunia sudah memasuki babak perempat final. Dari 32 tim peserta Piala Dunia, sudah tersaring menjadi tinggal 8 tim. Semuanya adalah juara dari masing-masing grup di babak penyisihan grup.


Kedelapan tim yang lolos ke perempat final merupakan tim-tim tangguh yang mayoritas langganan Piala Dunia. Untuk menuju ke perempat final, mereka pun telah melalui pertandingan-pertandingan yang sangat berat dengan tim-tim yang juga luar biasa gigih.

Dari kedelapan peserta perempat final, mungkin banyak yang menjagokan Jerman, Belanda, Prancis, Argentina, dan Brazil, terutama karena nama besar dan bintang-bintang lapangan yang bertaburan di sana. Tapi apakah statistik mengatakan bahwa Jerman, Belanda, Prancis, Argentina, dan Brazil lebih baik daripada Colombia, Belgia, dan Costa Rica?

Mari kita review statistik sejak babak penyisihan grup sampai babak perdelapan final atau babak 16 besar.

Pertama, bagaimanakah sepak terjang mereka selama babak penyisihan grup dan 16 besar?

1. Colombia:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 2 - 0 di 16 besar, tanpa extra time, tanpa kontroversi, tanpa own goal dari lawan

2. Argentina:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 1 - 0 di 16 besar, dengan extra time, tanpa kontroversi

3. Belgium:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 2 - 1 di 16 besar, dengan extra time, tanpa kontroversi

4. Netherlands:
- meraih poin penuh 9 di penyisihan grup (menang 3 dari 3 pertandingan)
- menang 2 - 1 di 16 besar, tanpa extra time, dengan hadiah penalty kontroversi

5. France:
- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang 2 - 0 di 16 besar, tanpa extra time, tanpa kontroversi, dengan own goal dari lawan

6. Germany

- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang 2 - 1 di 16 besar, dengan extra time, tanpa kontroversi

7. Brazil:
- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang adu penalty di 16 besar, tanpa kontroversi

8. Costa Rica:
- meraih 7 poin (menang dua kali dan seri sekali) di penyisihan grup
- menang adu penalty di 16 besar, tanpa kontroversi

Kalau dilihat dari sepak terjang kedelapan tim, ternyata sejauh ini Colombia yang rekornya cukup mengesankan. Melibas lawan-lawannya di babak penyisihan grup, Colombia lolos sebagai juara grup C dengan mengantongi poin penuh. Lalu di babak 16 besar, Colombia bisa dibilang sebagai tim yang kemenangannya paling mutlak. Kenapa? Karena, dari delapan tim, hanya ada tiga tim yang memenangkan pertandingan mereka di babak 16 besar tanpa extra time dan adu penalty, yaitu Colombia, Belanda, dan Prancis. Tapi gol ke dua Prancis adalah bunuh diri pemain lawan, sementara Belanda lebih parah lagi. Gol ke dua Belanda adalah hasil dari penalty kontroversial yang dihadiahkan wasit karena Arjen Robben melakukan diving di kotak penalty.
Brazil yang sangat diunggulkan, justru hanya bisa menang melalui adu penalty. Begitu juga dengan Costa Rica. Lalu Jerman dan Argentina, yang diperkirakan akan bisa melalui Algeria dan Switzerland dengan mudah, ternyata perlu extra time untuk memenangkan pertandingan. Begitu juga dengan Belgia.

Sementara itu, kalau dilihat dari babak penyisihan grup, 50% dari tim yang lolos ke perempat final, meraih poin penuh di babak penyisihan grup. 50% itu, selain Colombia, adalah Argentina, Belanda, dan Belgia. Jadi justru tim seperti Belgia berhasil meraih poin penuh di penyisihan grup. Justru Jerman, Brazil, dan Prancis tidak berhasil meraih poin penuh. Brazil sempat ditahan imbang oleh Mexico, Jerman oleh USA, dan Prancis oleh Ecuador.

Itu kalau dari sepak terjang mereka dari pertandingan ke pertandingan. Sekarang mari bicara soal angka.
Pertama, siapakah tim pencetak gol terbanyak sementara ini? Dan siapakah yang paling sedikit kebobolan?

Tim pencetak gol terbanyak:
1. Netherlands (12 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
2. Colombia (11 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
3. France (10 goals)
4. Germany (9 goals)
5. Brazil (8 goals)
6. Argentina(7 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
7. Belgium (6 goals) à memenangkan 3 dari pertandingan di babak penyisihan
8. Costa Rica (5 goals)

Tim paling sedikit kebobolan:
1. France, Colombia, Costa Rica, Belgium (2)
2. Argentina, Brazil, Germany (3)
3. Netherlands (4)

Tim dengan aggregate terbesar:
1. Colombia (9)
2. Netherlands, France (8)
3. Germany (6)
4. Brazil (5)
5. Argentina, Belgium (4)
6. Costa Rica (3)

Kalau dilihat secara angka, ternyata kedelapan peserta perempat final memiliki perolehan gol yang masing-masing berbeda satu gol. Dari 4 tim yang lolos dari penyisihan grup dengan poin penuh, ternyata hanya Belanda dan Colombia yang berada di posisi teratas dalam daftar pencetak gol terbanyak. Belanda mencetak 12 gol, dan Colombia hanya kurang 1 gol dibandingkan Belanda. Sementara dua lainnya, Argentina dan Belgia, justru merupakan 4 terbawah.

Dua tim yang tidak berhasil meraih poin penuh di penyisihan grup, namun tampil memukau mulai dari penyisihan grup sampai babak 16 besar, adalah Jerman dan Prancis. Jerman membukukan banyak gol karena melibas salah satu tim besar dunia, Portugal. Sementara 5 dari 10 gol yang sudah dicetak Prancis berasal dari pembantaian mereka terhadap Switzerland.

Yang menarik adalah, Belanda, tim yang paling banyak mencetak gol, ternyata juga merupakan yang paling banyak kebobolan di antara ketujuh tim lainnya. Dari semua tim yang berhasil masuk ke perempat final, Belanda adalah satu-satunya tim yang sudah kebobolan lebih dari 3 gol.
Sementara Costa Rica, tim yang paling sedikit mencetak gol dibandingkan ketujuh perempat finalis lain, yaitu hanya 5 gol, ternyata juga salah satu tim yang paling sedikit kebobolan. Costa Rica baru kebobolan 2 gol.
Begitu juga dengan Belgia yang hanya mencetak satu gol lebih banyak dari Costa Rica, mereka pun baru kebobolan 2 gol.
Yang paling hebat, lagi-lagi adalah Colombia. Karena, dengan perolehan 11 gol yang menempatkannya sebagai pencetak gol terbanyak setelah Belanda, Colombia juga termasuk yang paling sedikit kebobolan, karena, seperti Belgia dan Costa Rica, mereka pun baru kebobolan 2 gol.
Tim lainnya yang juga hanya kebobolan 2 gol adalah Prancis.
Selebihnya, Brazil, Argentina, dan Jerman, masing-masing sudah kebobolan 3 gol. Masih di bawah Belanda.

Dengan menjadi salah satu pencetak gol terbanyak dengan kebobolan paling sedikit, Colombia menjadi tim nomor 1 dalam hal selisih gol. Selisih golnya adalah 9, mengalahkan Belanda dan Prancis yang memiliki selisih gol 8. Selisih terkecil antara jumlah gol dan kebobolan adalah Costa Rica, yaitu selisih 3 gol.

Jadi, dari catatan rekor dan statistik, Colombia adalah tim terkuat di antara para peserta yang masuk ke perempat final. Ditambah lagi, pencetak gol terbanyak sementara ini masih dipegang James Rodriguez dari Colombia, dengan perolehan 5 gol.

Tapi, catatan rekor mereka tidak bisa menjadi pegangan mutlak. Ingat bahwa masing-masing tim menghadapi lawan dengan level kekuatan yang berbeda-beda.

Colombia memang memenangi keempat pertandingan mereka dengan mulus. Tapi Tim-tim yang sudah dihadapi selama ini bisa dibilang, tim-tim penggembira. Walaupun Uruguay tergolong tim yang terkenal tangguh, namun di Puala Dunia kali ini mereka tidak tampil sebaik yang diharapkan. Apalagi tanpa Luis Suarez yang diskors 4 bulan setelah aksi gilanya menggigit Chiellini.

Selasa, 01 Juli 2014

Last Match on Top 16: Belgium vs USA

Belgium 2            –             1 USA
Kevin De Bruyne ’93         Julian Green ‘107
Romelu Lukaku ‘105

Pertandingan terakhir di babak 16 besar Piala Dunia 2014 menampilkan dua tim yang, bisa dibilang, sama-sama underdog. Walaupun begitu, sepak terjang Belgia sepanjang babak penyisihan grup, memang lebih meyakinkan daripada USA. Belgia memenangkan tiga dari tiga pertandingan di babak penyisihan grup. Sementara Amerika dikalahkan Jerman di pertandingan terakhir, dan hanya bermain imbang di laga ke dua mereka melawan Portugal. Yah, Portugal sama Jerman sih. Sementara lawannya Belgia 'hanya' Russia, South Korea, dan Algeria.

Bagaimanapun, pertandingan ini berlangsung sama alotnya dengan tujuh pertandingan lainnya yang sudah berlangsung di babak 16 besar. Dari total delapan pertandingan, pertandingan Belgia melawan USA ini menjadi pertandingan ke lima yang memasuki babak perpanjangan waktu. Babak perpanjangan waktu pun masih saja berlangsung sengit. Belgia mencetak gol di menit ke-93 melalui Kevin De Bruyne. Gol itu membuat pertandingan yang mulai basi, kembali memanas.

Di akhir perpanjangan waktu babak pertama, Romelu Lukaku memperbesar keunggulan Belgia menjadi 2 - 0. Namun, hanya dua menit setelah perpanjangan waktu babak ke dua dimulai, USA sudah berhasil memperkecil ketinggalan menjadi 1 - 2, melalui gol Julian Green. Gol di awal babak perpanjangan waktu ke dua itu membangkitkan optimisme para suporter Amerika. Namun akhirnya, juara grup kembali keluar sebagai pemenang.

De Bruyne, pencetak gol krusial bagi Belgia

Boong deng, yang bener ini... ya nggak jauh beda lah ya.

Lucunya, pertandingan Belgia melawan USA ini, yang notabene adalah juara grup H melawan runners-up grup G, mengingatkan pada pertandingan Jerman melawan Algeria, yang merupakan juara grup G melawan runners-up grup H. Kedua pertandingan yang mempertemukan jebolan grup G dan H sama-sama berakhir tanpa gol di babak pertama dan ke dua, dan di babak perpanjangan waktu, si pemenang mencetak satu gol di awal babak pertama, lalu satu gol lagi, yang langsung dibalas dengan satu gol oleh si kalah, yang hanya memperkecil ketinggalan mereka, namun akhirnya tetap kalah.

Yah, hanya saja, pertandingan Belgia melawan USA ini jauh lebih membosankan. Jaaaauh lebih membosankan. Bayangin, udah 2x45 menit, plus 2 babak perpanjangan waktu, membosankan pula.

Btw guys, ini Piala Dunia kok kaya diatur gini ya? Tim-tim favorit baru bisa ketemu paling cepet di semifinal. Terus probabilitasnya itu semifinal dua-duanya tim favorit Amerika Latin vs Eropa (Brazil vs Jerman/Prancis dan Argentina vs Be land a). Cuma Jerman aja sih yang ketemu Prancis di perempat final. Tapi ya abis mereka mau ketemu siapa lagi? Brazil? Argentina? Belanda? Tim favorit ada 5, pertandingannya cuma ada 4. Ya ketemulah 2 dari 5..

Anyway, setelah banyaak kejutan di babak penyisihan grup, ternyata nggak ada kejutan di babak 16 besar. Pemenangnya semuanya juara grup. Kecuali bahwa ternyata, tim-tim yang dianggap underdog, nggak bisa dikalahkan dengan mudah seperti perkiraan orang. Dari delapan pertandingan di babak 16 besar, cuma Colombia lho yang bisa mengalahkan lawannya dengan dua gol, tanpa balas, tanpa bunuh diri, tanpa curang, tanpa extra time, dan jelas lah tanpa penalty. Yang lainnya, dua pake penalty, satu pake curang, Riga pake extra-time, satunya lagi 2-0 juga tapi salah satunya own goal lawan, satu nggak pake sambel, satu nggak pake bihun...apa sih..

Tapi jangan lupa, masing-masing menghadapi lawan yang berbeda lho! Bukan berarti yang menangnya adu penalty nggak bisa menang lawan yang menangnya 2-0. Bukan berarti yang menangnya adu penalty nggak bisa ngalahin yang menang dalam 2x45 menit tapi pake curang.

Pencetak gol terbanyak sementara:
5
James Rodríguez (Colombia)

4
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)
Thomas Muller (Germany)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic, Ivan Perisic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho, Wilfried Bony (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew, Asamoah Gyan (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)
Bryan Ruiz (Costa Rica)
Abdelmoumene Djabou (Algeria)

1
Oscar, Fred, Fernandinho, David Luiz (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez, Giovani Dos Santos (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer, Wesley Sneijder, Huntelaar (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Matt Hummels, Mario Gotze, Miroslav Klose, André Schürrle, Mesut Özil (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones, Julian Green (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko, Paul Pogba (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras, Sokratis Papastathopoulos (Greece)
Marcos Rojo, Angel Di Maria (Argentina)
Reza (Iran)


146 gol dicetak 108 pemain dari 32 tim/negara.

Top 16, 7th Match: Argentina vs Switzerland

Argentina 1         –             0 Switzerland
Angel di Maria ‘118

Lagi-lagi, pertarungan sengit terjadi di babak 16 besar, antara tim favorit melawan tim kuda hitam. Kali ini Argentina yang berhadapan dengan Switzerland. Switzerland, yang sangat tidak diunggulkan, harus berhadapan dengan sebuah tim dengan nama besar, yang di dalamnya terdapat bintang-bintang dunia, termasuk seorang pemain ajaib yang merupakan pemain terbaik dan termahal di dunia saat ini, Lionel Messi.

Gimana ya rasanya berhadapan dengan seorang Lionel Messi?

Switzerland menerapkan pola permainan bertahan yang sangat rapi dan ketat. Seperti tim-tim lain yang menghadapi Argentina sebelumnya, Switzerland menerapkan strategi yang sama: kawal ketat Messi!

Tampaknya strategi mereka cukup berhasil. Dengan keunggulan postur para pemainnya yang tinggi besar namun lincah-lincah, Switzerland berhasil menahan imbang Argentina dengan skor 0 - 0 sepanjang babak pertama dan babak ke dua. Pertandingan pun dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Dan di babak perpanjangan waktu pun, Argentina masih saja buntu.

Setelah pertandingan yang berlangsung alot selama dua kali 45 menit, plus dua babak extra time setelahnya, akhirnya Angel Di Maria memecah kebuntuan Argentina selama hampir 120 menit, menyambut umpan yang sangat cantik dari Lionel Messi, yang menurut saya pantas menjadi man of the match dalam pertandingan ini.

Switzerland sudah menunjukkan perlawanan yang begitu gigih. Mereka sudah nyaris sekali memaksa Argentina menyelesaikan pertandingan melalui adu penalty. Namun, Lionel Messi dkk memang tak terbendung. Apa boleh buat. Setelah perjuangan panjang mereka, mengalahkan Ecuador 2 - 1, sempat dibantai Prancis dengan skor telak 5 - 2, namun melibas Honduras 3 - 0 di akhir babak penyisihan grup, akhirnya perjalanan Switzerland di Piala Dunia 2014 harus terhenti di tangan Argentina.

Top 16, 6th Match: Germany vs Algeria

Germany 2          –             1 Algeria
André Schürrle ’92            Abdelmoumene Djabou ‘120+1

Mesut Özil ‘120

Dari semua pertandingan di babak 16 besar ini, dua pertandingan yang paling menarik dan enak ditonton adalah pertandingan Prancis melawan Nigeria dan Jerman melawan Algeria. Keduanya menampilkan dua negara Eropa yang tangguh melawan dua negara Afrika yang gigih dan pantang menyerah.

Saat menonton kedua pertandingan ini, mungkin beberapa dari penonton bisa merasakan, betapa berbedanya tempo permainan dan juga mental para pemain. Tidak seperti beberapa pertandingan sebelumnya yang penuh dengan pura-pura jatuh, para drama queen yang berakting kesakitan, dan usaha-usaha mencari simpati wasit, dua pertandingan yang terjadi malam ini justru menampilkan para pemain yang berusaha untuk tetap berdiri dan berlari walau sudah berjibaku dengan lawan.

Jerman sangat diunggulkan dalam pertandingan melawan salah satu tim kuda hitam Algeria di babak 16 besar. Dengan nama besar, kualitas pemain-pemainnya, dan sepak terjang yang sudah ditunjukkan selama babak penyisihan grup, mungkin sudah banyak yang meramalkan Jerman akan mengalahkan Algeria, yang bahkan bukan langganan Piala Dunia.

Pada akhirnya Jerman memang menang dan lolos ke babak perempat final. Namun siapa sangka, Algeria ternyata mampu mempertahankan gawang mereka dari serangan Jerman selama 2x45 menit?

Setelah bermain imbang tanpa gol selama babak pertama dan ke dua, pertandingan harus dilanjutkan dengan babak perpanjangan waktu. Namun, babak perpanjangan waktu baru saja berjalan dua menit, akhirnya pertahanan Algeria jebol juga. Adalah André Schürrle yang mencetak gol pertama bagi Jerman.

Ketinggalan 1 gol tidak mengendurkan semangat para pemain Algeria. Selama sisa dua babak perpanjangan waktu, mereka terus berusaha membalas gol Jerman, sambil masih berusaha mempertahankan gawang mereka sendiri. Namun, sayang sekali bagi Algeria, di akhir perpanjangan waktu babak ke dua, Jerman malah berhasil memperbesar keunggulan menjadi 2 - 0 melalui gol Mesut Özil.

Tidak sampai satu menit kemudian, Algeria memang langsung membalas gol itu melalui gol Abdelmoumene Djabou. Tapi gol itu hanya memperkecil ketinggalan mereka menjadi 1 - 2. Dan tak lama kemudian, waktu habis, dan pertandingan berakhir tanpa satu tim pun menambah gol lagi.

Bagaimanapun, kita pantas menaruh respek pada Nigeria dan Algeria yang telah menampilkan permainan terbaik mereka, dan juga Prancis dan Jerman, dua tim tangguh yang tidak perlu curang untuk mengalahkan lawan-lawan tangguh mereka. Salute!

Pencetak gol terbanyak sementara:
5
James Rodríguez (Colombia)

4
Neymar (Brazil)
Lionel Messi (Argentina)
Thomas Muller (Germany)

3
Van Persie, Robben (Netherlands)
Karim Benzema (France)
Enner Valencia (Ecuador)
X. Shaqiri (Switzerland)

2
Tim Cahill (Australia)
Mario Mandzukic, Ivan Perisic (Croatia)
J. Martinez (Colombia)
Gervinho, Wilfried Bony (Ivory Coast)
Luis Suarez (Uruguay)
Andre Ayew, Asamoah Gyan (Ghana)
Clint Dempsey (USA)
Memphis Depay (Netherlands)
Islam Slimani (Algeria)
Alexis Sanchez (Chile)
Bryan Ruiz (Costa Rica)
Abdelmoumene Djabou (Algeria)

1
Oscar, Fred, Fernandinho, David Luiz (Brazil)
Peralta, R. Marquez, Guardado, Hernandez, Giovani Dos Santos (Mexico)
Xabi Alonso, David Villa, Fernando Torres, Juan Mata (Spain)
De Virjk, Fer, Wesley Sneijder, Huntelaar (Netherlands)
Valdivia, Beausoujour (Chile)
Teófilo Gutiérrez, Pablo Armero, Juan Quintero, Cuadrado (Colombia)
Edinson Cavani, Diego Godin (Uruguay)
Joel Campbell, Óscar Duarte, Marco Ureña (Costa Rica)
Marchisio, Balotelli (Italy)
Sturridge, Wayne Rooney (England)
Keisuke Honda, S. Osazaki (Japan)
Admir Mehmedi, Haris Seferovic, Blerim Dzemaili, Granit Xhaka (Switzerland)
Ibisevic, E. Dzeko, M. Pjanic, Vrsajevic (Bosnia-Herzegovina)
Matt Hummels, Mario Gotze, Miroslav Klose, André Schürrle, Mesut Özil (Germany)
John Brook jr, Jermaine Jones (USA)
Sofiane Feghouli, Rafik Halliche, Yacine Brahimi (Algeria)
Marouane Fellaini, Dries Mertens, Divock Origi, Vertonghen (Belgium)
Lee Keunho, Son Heung Min, Koo Jacheol (South Korea)
Alexander Kerzhakov, A. Kokorin (Russia)
Ivica Olic (Croatia)
Mile Jedinak (Australia)
Olivier Giroud, Blaise Matuidi, Mathieu Valbuena, Moussa Sissoko, Paul Pogba (France)
Carlo Costly (Honduras)
Peter Odemwingie, A. Musa (Nigeria)
Nani, Silvestre Varela, Cristiano Ronaldo (Portugal)
J. Matip (Cameroon)
A. Samaris, G. Samaras, Sokratis Papastathopoulos (Greece)
M. Rojo (Argentina)
Reza (Iran)


142 gol dicetak 104 pemain dari 32 tim/negara.

Top 16, 5th Match: France vs Nigeria

France 2               –             0 Nigeria
Paul Pogba ’79

Joseph Yobo ‘90+2

Pertandingan ke lima di babak 16 besar ini berlangsung alot. Nigeria menampilkan pertahanan yang begitu ketat. Namun, pertandingan jauh dari membosankan. Selama babak pertama dan ke dua, baik Prancis maupun Nigeria saling menyerang dengan agresif.

Setelah bermain imbang tanpa gol di babak pertama, di babak ke dua, Prancis tampil lebih agresif lagi. Selama babak ke dua, Tim Ayam Jantan memang lebih banyak menguasai permainan. Serangan-serangan mereka juga lebih tajam, dan menciptakan banyak sekali peluang gol.

Namun barisan pertahanan Nigeria luar biasa kuatnya, rapat, dan seolah tidak kenal lelah. Beberapa kali baik penjaga gawang maupun pemain-pemain bertahan Nigeria melakukan penyelamatan yang, bisa dibilang, nyaris mustahil. Namun, setelah serangan demi serangan, akhirnya pertahanan Nigeria jebol juga. Di menit ke-79, Paul Pogba akhirnya memecahkan kebuntuan Prancis dengan golnya yang membawa Prancis unggul 1 - 0.

Gol itu tampaknya metuntuhkan mental anak-anak asuhan Stephen Keshi. Setelah gol Pogba itu, barisan pertahanan Nigeria jadi agak mengendur. Bahkan di injury time babak ke dua, kapten Joseph Yobo melakukan gol bunuh diri, yang malah memperbesar keunggulan Prancis menjadi 2 - 0.

Setelah gol itu, Nigeria seolah langsung kehilangan harapannya. Akhirnya Prancis menjadi juara grup ke lima yang lolos ke babak perempat final.